Strategi markerting : Persaingan yang tidak disadari oleh kebanyakan UKM
Strategi marketing kali ini membahas materi simpel, berkenaan dengan persaingan. Dalam bisnis persaingan memang harus di hadapi tidak bisa dihindari. Persaingan adalah hal yang biasa dalam dunia usaha, ‘banyak yang menerima persaingan dengan akal pikiran ada yang menerima dengan emosional, ada yang seakan kuat menghadpi persaingan tetapi sejujurnya kawatir, ada yang media-media menulis persaingan sebagai pemacu kreatifitas, walau sejujurnya dalam hatinya masih tersirat kekawatiran untuk kalah dalam persaingan.
Persaingan dihadapi dengan jujur dan bisa dengan pragmatis, bahwa ini pengaruhui oleh
- Persaingan wajar, sehat dan tidak head to head
- Persaingan dalam kualitas untuk merebut hati pelanggan
- Persaingan head to head saling menyindir dalam promosinya
- Persaingan yang tidak disadari keberadaaanya
Bahkan ketika Anda membanghun usaha bisa saja belum di lauching tapi sudah ada pihak lain yang merasa tersaingi karena mungkin teman dekat, tetangga dll, yang akan menjadi perbedaan apakah adalam persaingan memacu
- Semakin kreatif
- Semakin buta pikiran menggunakan cara kasar
- Semakin tidak peduli
- Semakin mendorong penurunan harga
Nah beberapa dalam hal persaingan ini, kadang tidak mudah menyakinkan diri sendiri bahwa kita punya “pesaing”, karena sudah menganggap produknya unik dan berbeda dengan yang lain tanapa melihat perkembangan pasar.
Ketika ada usaha bakso, disampingnya ada usaha soto, memang ketiganya tidak sedang bersaing dalam sebuah produk yang sama, namun bersaing untuk memenuhi kebutuhan yang sama, yaitu lapar.
Sehingga persaingan itu tidak bisa hanya dianggap dari produk sejenis, tetapi bersaing dalam jenis produk yang berbeda namun dalam pemenuhan kebutuhan yang sama pun bisa terjadi. Seperti TV , persaingan tidak hanya dari sesama stasitun tv tapi juga Media Portal online, dalam meraih kepercayaan dari para pemasang iklan.
Sehingga kesadaran bersaing ini juga melanda UKM di Indonesia yang belum sadar arah mana datang kompetitor selama ini, selaku berpikir dari produk yang sama, belum kepada pemenuhan kebutuhan yang sama. Misal warung soto dan warung bakso, warung mie ayam dalam satu lokasi kantin sejatinya juga bersaing walau beda produk namun sama-sama untuk selera dan pemenuhan kebutuhan makan. Yang terpenting persaingan harus sehat dan tetap menjaga wibawa.
Marketing : 5 Alasan saya meninggalkan MLM
Memang tidak dipungkiri Indonesia ini sangat empuk untuk peluang bisnis yang berbasis jaringan atau MLM atau affiliasi. Karena memang kondisi perekonomian Indonesia cukup mudah disentuh usaha berbasis modal minimalis.
Namun izinkan saya berbagi dan bependapat, karena ini memang dilindungi hukum, bebas berpendapat:
- MLM tidak mengajarkan sesungguhnya menjadi pengusaha sejati, namun menjadi selling sejati. Kok bukan marketing? Yah marketing orientasinya kepada kepuasan pelanggan, selling kepada volum penjualan dan jaringan. Kalau ada yang tidak puas pada produknya, tidak jelas arahnya kemana? Namun jika puas arahnya sangat jelas yaitu ke hadiah2 dan komisi2.
- Sebenernya tidak ada jaminan sukses di MLM, dan MLM sendiri pantang memberikan grafik perkembangan membernya berapa persen yang sukses dan yang tidak sukses, namun yang terus dipublish adalah yg sukses dan sudah mendapatkan hadiah-hadiah
- Setiap upaya sukses di MLM akan menemui saturasi, dan kondisi ini pula yang membuat MLM Besar di tahun 2004-2009 cukup besar sekarang surut.
- Sudah ada upaya jegal menjegal downline dari sesama brand MLM dan sesama produk dengan brand MLM yang berbeda namun sejenis, mutasi ini cukup menjadi undercover di dunia MLM
- Dahuku kala meninggalkam MLM yang cukup sukses dengan alasan saya ingin yang bisa membekali diri bagaimana mendfatarkan merek untuk HKIm yg mengajarkan strategi keuangan, mengajarkan pengelolaan SDM dan Pajaknya, Mengajarkan produki dan standar regulasi ….
Memang membaca ini bagi pelaku MLM akan terasa seperti sebuah desakan dan kemarahan? Sama dahulu saya juga marah kalau ada yang meragukan usaha di MLM saya, tapi itu dulu sekarang sudah terbukti badai stuarasi itu ada..dan memang MLM besar itu sudah tenggelam..sehingga memang yang masih semangat2 nya di MLM , saya mohon maaf atas tulisan ini, jangan emosi ,kita pernah sama-sama senasib, bedanya saya ditahun 2004-2007 an, beda tahun.. dan saya pun melihat milyader dari sebuah MLM sekarang main di jasa kontruksi dan jasa properti karena memang binsis riil yang mendidik menjadi owner akan lebih merubah bangsa ini sebeneranya.
Mohon maaf atas tulisan ini, yah sekedar catatan kecil pribadi tentang MLM, dalam kenangan yang akhirnya sudah lama ditinggalkan, selain dari sisi kajian ternyata mengandunb ghoror.
Marketing : Sedikit kesalahan UKM dalam memanfaatkan media online
Bebeberapa hari ini saya mendapatkan diskusi dari rekan2 beberapa komunitas via Yahoo Messenger, berkenaan dengan penerapan marketing untuk penetrasi online. Dari beberapa hal yang saya amati ada beberapa yang kurang pas di terapkan rekan2 dari sisi pemahaman awal.
- Masuk ke online tidak dibarengi peningkatan benefit dan insentif,
- Tidak diberikan insentif pemacu ingatan misal diskon khusus yang unik, karena di online informasi dikonsumsi cepat. Sehingga perubahan taktik harusnya cepat, bulan lalu bisa beda dengan bulan depan. Diskon jangan begitu2 saja.
- Di awal penerapan penetrasi online, maka berharapa langsung kepada penjualan, tapi bukan membangun brand awareness, sehingg kecewa, seakan online tidak membantu, padahal penerapan media online itu bagian dari strategi, nah taktiknya yang berbeda dan dipertajam.
- Tergesa-gesa mengukur prestasi online dari tingginya penjualan, tapi tidak waspada taktik dari pesaing yang terus improvisasi tanpa kita pantau.
- Desain web tidak sesuai segmen yang dituju, kemudahan navigasi dan kontak ke layanan service tidak fokus tempatnya, sebaiknya di bagian atas kanan ada no Hotline.
- Ada beberapa toko online tapi wajahnya seperti blog pribadi, kurang Display able. Artinya seakan masih sebagai percobaan bikin toko online, yang karakter seperti masih pribadi, belum selera corporate
- Berpikir ketika membuat web dan blog bisnis maka sudah final dan ada kemajuan usaha, padahal masih perlu di sosialisasikan dan dipromosikan kembali.
- Semangat dalam membuat blog atau web bisnis baru mengonlinekan belum meningkatkan manfaat, misal dengan artikel yang sangat bermanfaat atau tips.
- Berpikir web yang penting murah kalau perlu gratis, padahal perlu strategi pengembangan media, ini yang lebih mahal dari webnya. Butuh proses dan taktik lapangan.
Sehingga perlu dikembangkan lagi. Yah ini hasil dari dikusi via YM yang saya jadikan tulisan di blog ini. Semoga bermanfaat walau singkat.
Sukses
Strategi Marketing : Tahapan dari Promosi Iklan ke Promosi Mulut lewat Mulut
Dalam sebuah forum ada yang gelisah dengan penrapan stratgi marketingya, karena biaya promosi tinggi sekali. Jika promosi dikurangi maka penjualan juga berkurang. Sebenernya jika dipahami bahwa dalam strategi marketing itu positioning maka semua akan terasa lebih mudah dikenali.
Dalam membangun usaha baru kita kenal yang namanya siklus sebuah brand, yang ini secara umum akan melekat pada usaha-usaha yang pernah ada sekarang.
- Pada tahap awal, biaya promosi mungkin akan cenderung tinggi, artinya ukuran efektifitasnya masih berhubungan dengan pengenalan dan publisitas. Semua ini tentu untuk memacu penjualan awal, terutama untuk mendorong konsumen mencoba produk.
- Pada tahap kedua, ketika sudah ada indikator penjualan maka sebenernya kita harus sadar, bahwa apa yang dikerjakan di no 1, yaitu tahap awal maka akan berdampak pada persepsi pengguna produk, yang ini bisa mendorong adanya promosi mulut ke mulut, sehingga jika sudah diindikasikan ini terjadi, maka sudah bisa dikurangi iklan di media besar yang mahal.
- Namun pengurangan di Tahap 2 tadi dari pengertian frekuensi, biaya, tapi untuk aktifitas promosi tetap harus dipertahankan, karena untuk mengingatkan, memastikan, merangsang keingintahuan pasar. Bedanya bahwa bentuk promosi kita bisa lebih dewasa dan tidak hanya fokus pada penjualan tetapi juga persepsi besar terhadap brand kita dititipkan di sini.
- Pada tahap ini jika sudah ada promosi yang memacu persepsi kuat seperti di nomor 3, tentulah jikaproduk barang retail dan skala konsumsi maka akan ada agen, reseller yang tertarik untuk bekerjasama di berbagai wilayah, sehingga pada tahap ini menjadikan perubahan cara promosi, sehingga strategi promosi harus diubah karena penting juga untuk mempertahankan agen dan reseller kita tidak lari.
- http://ipan.web.id/strategi-marketing-4-manfaat-dari-promosi-mulut-ke-mulut/
- http://ipan.web.id/marketing3-hal-yang-harus-diperhatikan-dalam-periklanan/
- http://ipan.web.id/strategi-marketing-strategi-bisnis-media-iklan-yang-efektif-untuk-lingkungan-yang-ramai/
- http://ipan.web.id/strategi-bisnis-jangan-hanya-menjual-produk-tapi-juga-menjual-value/
Yah ini sebagai wacana strategi marketing dan pemantapan peluang usaha saja.
Sukses selalu
Strategi Bisnis : Jangan terlalu banyak umbar keunggulan dalam promosi
Strategi Bisnis. Sudah lebih dati 70 kali saya diminta sharing/narasumber dalam berbagai kegiatan skop strategi bisnis, yang pada akhirnya banyak peserta yang menghubungi paska kegiatan tersebut dengan melampirkan penawaran dan kerjasama, baik untuk promosi, marketing atau hanya untuk pendampingan. Ada 1 hal yang menarik dari semua itu, yaitu rata-rata dari para rekan calon pengusaha dan pengusaha atau pelaku usaha sampingan baisanya terlalu yakin dengan ini :
- Merasa idenya berbeda dengan yang lain, sedangkan dia belum pernah mengecek dari pesaing2., sehingga lemah ide pembedanya
- Merasa bahwa produk lebih baik, padahal semua itu baru dari sisi prosesnya, belum melihat produk itu setelah di gunakan 3-4 tahun lagi seperti apa kuat dan awetnya. (Awet dan daya tahan beda, kalau daya tahan tidak bsia dikatakan “tergantung pemakain”, karena itu pemahaman yang mengaburkan, bahwa produ itu belum masuk area ujicoba yang matang)
- Merasa ide barunya lebih segar, padahal sering terjadi ide barunya itu pernah dimunculkan pelaku usaha yang sama beberapa tahun sebelumnya dan terbukti gagal.
- Merasa bahwa dengan keluar dari sebuah perusahaan, karena telah mengetahui semua proses bisnisnya, kemudian mendirikan perusahaan untuk bersaing dari tempat bekerjanya yang terdahulu, padahal dia baru mengausau dari sisi prosesnya belum kepada filosofi marketing dan strategi yang diterapkannya. Baca selengkapnya
Strategi Bisnis : Pentingnya Impulse Buying dalam meningkatkan penjualan online
Impulse buying adalah mengubah daya tarik orang yang awalnya tidak berniat membeli menjadi membeli, ini penting dalam ,meningkatkan penjualan secara online maupun offline. Dari sekian strategi untuk memacu impulse buying, ada 5 hal yang perlu diperhatikan di awal
Pertama : Detilkan dan Deskripsikan
Salah satu taktik dalam selling bahwa untuk bisa menjual sebuah barang maka harus mendekati aspek psikologisnya, karena ini sesuai cara berpikir seseorang bahwa ketika seseorang memutuskan sesuatu termasuk memutuskan pembelian, salah satunya aspek psikologis, bukan hanya cara berpikir dan logika saja.
Saat ini saya ambil contoh, banyak sekali toko online yang hanya memampangkan gambar produk, sama sekali tidak ada diskripsi, bagaimana konsumen akan tahu produk itu jika itu produk baru impor dari negara yang jauh sana? Minimal pembeli tahu bahwa produk itulah yang akan saya beli, berdasar dari spesifikasi yang ada, karena calon pembeli bukan penebak jitu/peramal jitu hanya melihat gambar secara online maka diketahui semua dibalik produk. Dalam hal ini sebagai contoh yang bagus bisa mengunjungi bhinneka.com.
Kedua: Prediksi harapan sebenernya dari produk yang kita jual
Ini penting, rasa-rasanya ketika menjual kaos edukasi kita tidak sedang menjual kelebihan dari sisi bahan kaos saja, tetapi juga benefit dari kaos tersebut. Tentu memang benefit ini baru akan muncul setelah produk diterima atau dipakai. Namun jangan lupa bahwa sebelumnya ada “layanan” yang mungkin menjadi prioritas dalam keputusan membeli, misal jaminan barang original, 4 hari sampai dll, mungkin ada beberapa hal :
Strategi Marketing : 4 Manfaat dari promosi mulut ke mulut
Sudah sejak zaman dahulu kala, bahkan sebelum ada internet, maka budaya promosi mulut ke mulut, atau kalau orang jawa bilang “gethok tular” menjadi sangat efektif dalam membantu kelancaran penjualan. Sayangnya masih banyak pengusaha yang tidak mengkondisikan hal ini agar berjalan dengan baik, promosi mulut ke mulut. Alamiah, alasan utama menurut saya tentang promosi mulut ke mulut ini, tetapi setidaknya itu mempunyai kekuatan besar, karena ketika marketing, direktur dan perusahaan sedang tutup bisa terbantu promosinya.
Dalam sebuah seminar marketing di Yogyakarta, ada salah satu peserta seminar yang bertanya sebelum materi yang saya paparkan selesai, karena alasannya modalnya tipis sehingga tidak akan bermain di iklan tetapi di promosi mulut ke mulut, dan dia ingan lebih dalam soal ini.
Dampak besar dari hebatna promosi mulut ke mulut bagi usaha Anda :
- Dengan posisi promosi mulut ke mulut yang kuat maka konsumen yang datang, telp, email adalah paaa posisi siap beli, siap tawar, dan siap transaksi. Betapai indahnya ini, karena sebagai tim marketing tinggal menendang bola menuju gawangnya. Nah dari sana kita bisa mendapatkan keuntungan, bahwa konsumen digerakkkan oleh konsumen lain
- Terbukti, dari kuatnya promosi mulut ke mulut akan menciptakan peluang lebih besar untuk mencetak pelanggan dengan loyalitas tinggi, bahkan kadang mereka membentuk komunitas tersendiri.
- Waktu atau durasi penjualan menjadi pendek, mungkin saja sebelum kita gencar iklan, sudah ada yang telepon, ada yang pesan, sehingga dengan promosi mulut ke mulut . Tetapi inti dari point ini, bahwa waktu penjualan bisa dipersingkat dan dipersempit. Memudahkan untuk peningkatan produk selanjutnya
- Brand Images, sebelum di iklankan pun jika promosi mulut ke mulut berjalan secara alamti maka brand lah yang menjadi fokus pembicaraan, sehingga anda sebagai pengusaha diuntungkan, tinggal iklan anda untuk memolesnya.
Strategi Marketing : Memahami 4 level konsumen
Masih dalam kaitan diskusi dengan salah satu rekan yang memilki usaha cukup baik, maka kita asik juga soal dikusi tentang perilaku konsumen. Mengintip perilaku konsumen adalah salah satu cara dari sekian banyak yang bisa kita jadikan alasan untuk mendekati cara terbaik yang bisa langsung di respon konsumen, karena jika tidak maka kita akan sulit mendekatinya walau dengan media yang bertubi, tim marketing yang banyak.
Tujuan utama dari pembahasan perilaku konsumen adalah karena memang sebenernya ada 4 level terhadap konsumen tersebut :
- Prospek, yaitu pihak yang sudah mengenal bisnis kita, atau sudah kita kenalkan tetapi belum sekalipun membeli/transaksi dalam pengamatan saya dalam forum, milis, komunitas banyak yang masih sebatas prospek, apalagi kalau kita masuk ke milis “dengan tujuan diem2 hanya mau promosi, walau ada artikel kecilnya tapi itu hanya kamuflase, maka seperti ini jika tidak dengan sistem rayuan benefit yang sebenarnya maka hanya memposisikan sebagai prospek. Ada lagi dalam istilah lain prospek adalah orang yang sedang mengamati tetapi belum melakukan kontak apapun, terutama dalam media onlinem sehingga perusahaan harus aktif jemput bola.
- Pelanggan, adalah orang yang benar sudah bertransaksi baik membeli jasa atau barang.
- Klien, adalah orang yang rutin bertransaksi, membeli dari apa yang kita miliki baik jasa atau produk
- Advocates, adalah mereka yang sudah puas atau sangat puas dengan jasa atau layanan kita sehingga akan berusaha menceritakan kepada pihak lain. Nah perusahaan harus peka terhadap tipe ancovates ini karena di sinilah bisa saling bersinergi. Namun harus diingat, advocates ini memiliki kecenderungan obyektif, sehingga jika perusahan intervensi maka sebaimnya secara bijak, dan dengan cara smooth. Karena akan beda posisinya jika sudah menjadi bagian dari marketing independent, bedanya akan sangat kelihatan membujuk terus, merayu terus, sehingga posisikan Advocates secara obyektif jangan buru2 ditawari jadi marketing independent
Strategi Marketing : Kepuasan Pelanggan bukan tujuan akhir, pahami 5 dimensi
Suatu sore saya mengunjungi seorang rekan yang memiliki usaha cukup baik, banyak diskusi terutama tentang kepuasan pelanggan, namun saya sampaikan di sana janganlah kepuasan pelanggan menjadi tujuan akhir, karena pada dasarnya kepuasan pelanggan hanya “jalan tol” menuju kejayaan usaha, karena kepuasan pelanggan berfungsi sebagai :
- Kepuasan pelanggan hanya menjadi “jalan tol” untuk membangun loyalitas pelanggan, dengan banyaknya yang loyal akan mengurangi biaya iklan yang mungkin anggaran terbesar
- Kepuasaan pelanggan hanya “alat pemancing” agar pelanggan loyal dan akan sering membeli/transaksi
- Kepuasan pelanggan hanya “media” untuk loyalitas pelanggan agar juga menceritakan kepada banyak pihak, maka ini menjadi media promosi
- Kepuasan pelanggan hanya “alat pendorong” untuk membeli/transaksi kembali walau perusahaan kita sedang tidak beriklan
- Kepuasan pelanggan hanya “perangsang” loyalitas pelanggan untuk pembelian dengan volume yang lebih besar
Setelah pelanggan puas, kemudian loyal maka dengan pencitraan yang baik maka bisa menjadi pelanggan yang fanatik.
Strategi Marketing : Cara Promosi Efektif di Abad 21
Strategi Marketing. Dalam sebuah acara seminar di yogya ada beberapa catatan kecil yang bisa saya tulis dari acara diskusi, sebagai narasumber saya mencoba ambil point simpelnya.
Di Abad 21 ini ada sedikit perbedaan yang rekan-rekan KPMI harus pahami. Kalau dahulu kala perusahaan besar maupun kecil cenderung melakukan pemasaran missal, misal :
- Membagi brosur kepada siapapun di manapun
- Mengganggap konsumen itu sama atau rata-rata sama
- Bergantung pada iklan, sehingga biaya iklan sangat tinggi
- Berusaha memuaskan pelanggan
Di era IT atau era komunikasi ini sebenernya ada beberapa yang sudah bergeser di antaranya :
- Pasar saat ini sudah mulai jenuh dengan banjirnya brosur, iklan di mana-mana, semua orang ingin jadi pengusaha dan semua ingin membagi brosurnya.
- Era Internet telah merubah perilaku pasar menjadi horisontal, yang dahulu sangat percaya dengan brosur sekarang di era IT mereka juga butuh “komentar “orang lain yang telah menggunakan produk, review produk, keluhan akan sebuah produk. TInggal duduk menggunakan Google cukup sudah.
Strategi Marketing : Harga murah belum jaminan produk makin laku
Seharian ini senang bisa sharing dengan beberapa pengusaha Yogya, saya dipasangkan dengan Pak Amir, Ketua APIKRI yang 23 tahun berhasil mengangkat dolanan anak-anak seperti Gansing, Rebana, Batu-batu alam pernik2, biji-bijian menuju ekport ke berbagai negara.
Diskusi yang diprakarsai Dinas di Pemda Kodya Yogya ini bertujuan menyadarkan cara pandang pengusaha2, terutama bagaimana IDE yang hebat belum tentu laku dipasar jika tidak digabung dengan analisa kebutuhan pasar dan bidikan pasar yang tepat. Namun bisa saja ide sederhana tetapi jika dibutuhkan pasar maka akan bisa tetap eksis.
Pak Amin bercerita bahwa dulu ketika mengekport rebana awalnya hanya sebagai alat musik biasa, juga hiasan di monumen budaya. Seiring waktu pasar nya ingin diperluas, sehingga mengadakan riset kira2 apakah Rebana ini bisa difungsiakn untuk hal lain. Ternyata riset itu menghasilkan sesuatu, yaitu setelah riset kecil berjalan maka rebana kecil tadi bisa arahkan di pasar yang agak luas ke bidang kesehatan, karena ternyata dalam penelitian Rebana jika dibuat dengan ukuran tertentu bisa untuk membantu terapi bagi orang tuli dan gangguan pendengaran di beberapa rumah sakit di luar negeri.
Marketing : 7 hal penting bagi E-commerce anda
E-commerce tidak sama dengan tok o online. Toko online hanya sebagian dari E-commerce, karena secara prinsip E-commerce adalah segala hal yang bisa di komersialkan secara elektronik, jualan buku, e-book, jualan member biro jodoh, toko online, katalog online, konsultasi online berbayar, pelatihan online, semua itu termasuk e-commerce.
Lalu apa yang harus ada untuk meningkatkan kualitas e-commerce anda, setidaknya ada 7 hal sbb:
- Berikan alasan untuk menggunakan produk anda, gambarkan manfaat untuk pelanggan, berikan testimoni yang mewakili masing-masing segmen pembli yang dituju, misal orangtua, oarnag kantoran, anak muda dll
- Tawarkan jalur akses untuk Customer service dari pilihan akses tersulit hingga yang termudah dan termurah.
- Orang Indonesia masih suka dengan simbol diskon, potongan harga
- Tawarkan banyak alat pembayaran yang mudah dan aman. Katakan : Support untuk internet banking dan paypal, jika memang ada. Berikan kemudahan konfirmasi pembayaran, jangan dalam bentuk isi form yang berbelit2.
- Lihatlah web dari pesaing anda dengan rutin, lihat agresi promosi dan peningkatan layanannya/produk, ambil manfaatnya
- Berikan ruang keluhan, kritik saran yang sangat mudah digunakan dan mudah diterima dengan cepat, sebelum masalah semakin lebar.
- Jadilah sosok pengusaha e-commerce yang selalu dapat memberikan kejutan positif.
Marketing : 10 yang penting dalam Facebook untuk reputasi bisnis
Facebook memang sanagat luar biasa, perkembangan yang relevan dengan kebutuhan pasar media dunia, namun mohon diingat segampangnya media maka akan segampang itu pula dipengaruhi suasana yang ada.
Untuk mengefektifkan facebook dalam hal reputasi usaha mohon diingat beberapa hal berikut, agar Facebook anda memiliki daya pikat dan mengandung upaya marketing.
Mohon pahami 10 ham yang penting dalam Facebook untuk menjaga reputasi bisnis, sbb :
Selling : Meningkatkan penjualan dengan optimasi Soft Selling secara online
Strategi marketing di era IT ini ada banyak perbedaaan dengan pola yang ada di era sebelum tahun 2000an, ini bisa terlihat dari pola selling yang terus berubah strategi dan taktiknya.
Banyak sekali dalam menerapkan strategi marketingnya dengan membuat web, email marketing, promosi banner, baliho, pendekatan personal selling dll. Pernahkah terpikir bahwa semua itu masih tergolong dalam hard selling. Sedangkan kita masih diberi kesempatan untuk melakukan upaya soft selling.
Mengenal sedikit tentang Soft selling
Soft selling adalah upaya peningkatan penjualan dengan bentuk-bentuk yang tidak vulgar. Kalau di hard selling vulgarnya sangat tampak. Misal memasang banner ke sebuah web portal, memasang brosur online, dengan demo online & offline.
Marketing : Meningkatkan Penjualan dengan Edukasi pasar
Banyak sekali inovasi yang dilakukan untuk mendongkrak penjualan, dengan berbagai promosi yang ada, dengan biaya yang luar biasa. Namun yang harus diperhatikan apakah produk kita itu sudah diterima dengan baik?
Yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana telah mengedukasi pasar. Edukasi pasar dalam rangka meningkatkan penjualan betujuan agar masyarakaat sadar akan produk anda secara penuh, ini merupakan bagian dari strategi marketing.
Misal, dahulu kalau Kedele hanya dijadikan untuk bahan baku Tempe dan Peyek, saat ini bisa dipakai untuk Susu Kedele dan Bubuk Kedele dengan harga yang tinggi. Bagi orang awam biasanya berpikir, “Ah masa sih kedele bahan tempe itu bisa mengurangi kolesterol?”. Nah edukasi bisa dalam berbagai bentuk misal hasil penelitian soal kedele, hasil kajian lapangan peminum susu kedele, hasil uji labooratorium dll. Misal ada tulisan : ”Menurut Prof Dr. Ir. Xxxxx dari Universitas Visimaster, menyebutkan dalam hasil penelitiannya, bahwa kedele mampu mengurangi koleterol darah karena mampu meningkatkan metabolisme dan membakar…………….”
Dengan cara itu maka masyarakat tersadar bahwa ternyata produk kedele tersebut adalah hasil rekomendasi pakar dan dengan olahan yang matang dari sebuah penelitian.
Ada produk Habbatuss sauda, setelah di munculkan hadist dan kajian ilmiahnya, masyarakat tersadar, dan penjelasan detil seperti dalam contoh di web ini http://binmuhsinhabbatussauda.blogspot.com/
Dampak edukasi bisa positif dan negatif
Ketika edukasi memamarkan dampak obat kimia yang dossi tinggi dan ektrim maka orang begitu takut, sehingga ada produk obat tertentu yang mulai ditinggalkan, ketika edukasi menjabarkan dampak bakso formalin itu sangat berbahaya, maka penjual bakso bisa merasa ada penurunan omzet. Tapi di lain pihak ketika ada yang mengedukasi bahwa obat herbal itu aman dan manjur maka orang berlari mendapatkannya.
Susun edukasi anda sehingga, inovasi produk dan layanan anda bisa diterima dengan baik oleh masyarakat, yang berdampak pada minat terhadap produk anda, sehingga penjualan juga meningkat.
Dalam edukasi pasar, bida menggunakan beberapa model pendekeatn bahasa,
- bahasa ilmiah
- bahasa umum/masyarakat
- bahasa simpel untuk segala umur
- bahasa bisnis jika untuk penawaran reseller/agen
Bisa juga memulai dari :
- Trend negatif, kesalahan umum masyarakat, misal kebiasaan mengkonsumsi Perasa MSG
- Trend positif, misal : membudayanya obat herbal di masyarakt maka produk ini bagian dari solusi
Dengan edukasi pasar, produk Anda menjadi dipertimbangkan kembali dan dilirik/diminati, yang mungkin awalnya selalu tidak dilirik.




