Strategi Bisnis : Solusi ketika omzet menurun

Begitu banyak email yang menanyakan kondisi usaha menurun, dan omzet sempat drop, terakhir kemaren diskusi dengan pengusaha herbal yang sudah menggunakan strategi bisnis berlapis-lapis. JIka pengusaha kawakan dan pengalaman tinggi omzet naik dan turun sudah seperti fase yang selalu ada, namun jika pemain baru dalam bisnis, begitu fase menurun bisanya frustasi, menyalahkan keadaan negara, menyalahkan pihak lain.

Dari sisi strategi bisnis sebenernya memang jika kita kaitkan kepada Pola Pasar yang ada maka ini bisa karena 2 hal

  1. Faktor internal
  2. Faktor ekternal

Faktor internal : antara lain perubahan halus yang tidak diketahui, misal dari sisi produk, layanan, komunikasi, dll
Faktor ekternal : tren menurun, pesaing lebih agresif, daya beli masyarakat menurun, teknologi, regulasi pemerintah.

Usaha rumahan, usaha sambilan, terkadang tidak menyadari adanya perubahan internal dan lebih KAGET terhadap perubahan ekternal, karena waktu pengamatan dan monitoring yang terbatas.

lalu jika dari faktor iNternal apa saja solusinya.

  1. Solusi, tergantung kasus per kasus
  2. Solusi, bergantung aspek kekuatan internal dan kelemahan internal
Namun jika dikatakan secara umum, maka beberapa hal yang bisa dilakukan
  1. Segmentasinya perlu di uji ulang, segmentasi adalah kratifitas perusahaan dalam membagi pasar, yang bisa saja salah atau berubah
  2. Targeting, dalam pendekatan kepada target, kemungkinan ada komunikasi, dan cara yang salah, atau justru tidak tahu menahu tentang ini, dan target mana yang memiliki prioritas tinggi, yang butuh high qualty service. dll
  3. Positioning yang tidak berhasil ‘dikirim’ kepada benak2 konsumen, produk kita umum, lalu persepsi yang diciptakan terlalu datar, sama dengan semua pesaing.

Contoh satu
Pedagang bubur ayam yg saya kenal, awalnya terbentur kepada pesaing yang bermunculan, karena memang bubur ini untuk generalisir semua lapisan, kemudian setelah pertimbangan masak2 maka  beralih kepada BUBUR SEHAT, bubur khusus segmentasi orangtua, dengan targeting orang tua sibuk yang memiliki bayi. Produk ini  menggabungkan unsur sayuran dan daging/ikan,  untuk vitamin dan nutrisi yang cukup ke dalam buburnya, setiap hari dengan menu dan bahan alami yang berganti, termasuk rasanya, agar tidak jenuh.  Maka setiap hari buka jam 6 pagi, maka sekitar jam 7.30, biasanya bubur sudah  habis. Bubur bayi memililiki “positioning” solusi makan pagi bayi tanpa repot giling/masak bagi ibunya dan didukung jaminan nutrisi asupan yang tepat sesuai standar kesehatan agar  keluarga tetap harmoni. 

Contoh dua

Pedagang Martabak ini, kaget ketika bahan baku naik, sedang harga sudah tinggi, di sekitarnya (Daerah bantul) daya beli tidak stabil, ketika omzet menurun memutuskan beralih kepada usaha yang sama namun segmentasi, targeting dan positoning berbeda. AKhirnya memutuskan beralih menjadi MARTABAK MINI, ukuran kecil, pas untuk anak2 dan remaja, yang 1 buahnya seharga Rp. 1000. kemudian olahan rasa menggabungkan dari aroma buah/blueberry/strawberry, juga ada yang original COklat/keju/ dll Keduanya adalah bagaimana kreatifitas bisa mengembalikan omzet.


strategi bisnis

5 Tulisan terbaru

  • Komentar

    Ingin menanggapi?




    Semua tanggapan akan diperiksa dahulu oleh Ipan Pranashakti, jika spam comment dan spam link, maka akan dihapus permanent


    Sebelumnya mohon isi perhitungan berikut. *

    Bisnis & Marketing

    Langganan Artikel Bisnis Marketing Toko Online Wirausaha

    • Begitu ada artikel baru, Anda dapat email pemberitahuan