Strategi Marketing : Marketing Era e-commerce bukan berarti telah membuang era tradisional (seri 1)
Membaca sebuah tulisan di web pakar ekonomi yang berbicara tentang marketing dan migrasi strategi marketing, saya jadi berpikir apakah memang secara defacto kita semua harus percaya bahwa era e-commerce dan internet marketing merupakan era yang benar benar baru?
Kehebatan dan kecanggihan era baru ini dalam konsep IT memang ada pelonjakan yang luar biasa, misal dari internet yg akses statis menjadi dinamis dan everywhere, dari yang belum kenal orang banyak sekarang bisa berkomunitas dg teknologi di Facebook, Friendster, Plurk dll. Di sisi komunikasi murah yang dahulu segala pembicaraan jarak jauh harus dengan telepon, sekarang ada Yahoo Messenger, Email, Board, SMS dan multi interface chat. Namun ini semua berkenaan dengan infrastruktur IT di seluruh lapisan dunia. Apakah dengan infrastruktur tersebut akhirnya strategi marketing juga bermigrasi total?? Jawabnya tidak.
Bahkan ketika Skype dan VoIP menjadi solusi untuk telepon murah pun, nilai tradisional nya tetap sangat kuat.
Era e-commerce dan internet marketing yang berflatform web 2.0 masih tetap membutuhkan kaedah strategi marketing dari era tradisional. Lalu apa saja perubahan itu?
Potensi Informasi Pendukung Marketing
Sebelumnya ada 2 hal dalam potensi marketing ini
- Potensi Informasi disisi pelaku bisnis, bahwa marketing di era sekarang dalam pertukaran informasi baik empiris/pragmastis telah dapat dijangkau begitu mudah dan sangat cepat,misal informasi kegagalan aplikasi marketing di Malaysia bisa langsung di sampaikan cabang diseluruh dunia terutama Indonesia, antisipasi begitu cepat. Misal lagi, ketika ada perubahan misal krisis yang mendadak karena faktor bencana, krisis ekonomi, saham dan perubahan pasar, masing-masing pelaku bisa langsung bekomunikasi dengan cepat dalam satuan detik dengan murah, misal yg paling sederhana dengan Skype, Chat, Facebook, Yahoo Confference dll
- Potensi Informasi dari sisi masyarakat luas. Potensi ini memang sangat riskan reaksinya, karena sebuah produk yang tidak sesuai dengan harapan dapat langsung dikomplain dan terpublish di internet dalam hitungan menit namun bisa tersimpan seumur hidup di blog atau web forum, misal menggunakan web suara pelanggan, web suara pembaca nya detik.com dll ini jelas-jelas berlawanan dengan tujuan adanya strategi marketing. Sehingga jika ini dianggap potensi negatif maka setidaknya perusahaan menyiapkan konsep untuk pencitraan positif yang mampu terpublish dengan lebih cepat. Ambil contoh dalam kasus tadi, yaitu jatuhnya pesawat kecerobohan pilot, maka public relation dari maskapai itu harus mampu menguasai opini pasar dan informasi solusinyaatas kecelakaan tersebut, kenapa?? Karena informasi jatuhnya pesawat dengan korban yang besar menyangkut nyawa dan kepastian kondisi penumpang maka informasi baik obyektif maupun subyektif berpendar dengan cepat sebelum berita Koran, Berita TV muncul.
Sehingga perubahan ini secara mendasar memacu “bagaimana” strategi marketing itu lebih efektif diterapakan, namun konsep tradisionalnya yang masih melekat yaitu kejelasan informasi tetap begitu penting.
Suasana Implementasi Strategi Marketing
Zaman dahulu untuk menjangkau 200 pelanggan membutuhkan 200 perangko, atau 200 kali menelpon, saat ini suasana bisa beruabah, hanya klik sekali saja 200 pelanggan sudah menerima informasi dalam kotak yang disediakan baik itu email, sms atau private messege. Lalu pertanyaannya ketiga pelaku marketing dengan sekali klik dan kemudian diam, maka sang pelaku marketing kehilangan momentum, yaitu momentum untuk memastikan bahwa informasi yang dikirim tadi dipastikan lebih cepat sampai,+dibaca daripada penggunaan dengan perangko atau fax.
Pembiayaan jelas bisa lebih murah, jika kotak-kotak yang disediakan pelanggan tadi merupakam media yang nilai interaksinya sangat tinggi, nilai repsonnya mudah dll. Sehingga sudah selayaknya bahwa suasana dalam implementasi marketing yang tradisional harus banyak memilah2 target untuk efesiensi biaya jangkauan, termasuk cara memastikan efektiftasnya dengan daya respon yang lebih baik. Responsif dari pelanggan dan masyarakat umum sangat ditunggu pelaku marketing.
Kesimpulan dari di atas:
- Era e-commerce tetap menggunakan nilai-nilai tradisional yaitu memastikan apakah email sampai? Apakah penerima email tertarik
- Dalam transformasi informasi memang sangat tinggi namun yang ditransformasikan masih bahasa-bahasa tradisional, baik penjualan, pertanyaan, tanya jawab
- Kecepatan pertukaran data bukan berarti masyarakat langsung puas, justru komplain bisa langsung cepat disalurkan kemana-mana dengan media yang ada baik resmi atau tidak
- Masyarakat yang dulunya pasif sekarang bisa aktif memlihi produk, namun tetap saja menanyakan kualitas barang, jaminan garansi, harga diskon, dikirim dengan apa, apakah perusahaan ini terpercaya?
Materi Strategi Marketing : Marketing Era e-commerce bukan berarti telah membuang era tradisional akan saya lanjutkan ke edisi 2, 3 dan 4, sebab ini sudah adzan maghrib.
Sukses selalu
5 Tulisan terbaru
- Strategi markerting : Persaingan yang tidak disadari oleh kebanyakan UKM
- Marketing : 5 Alasan saya meninggalkan MLM
- Marketing : Dampak Jatuhnya Pesawat Sukhoi superjet 100
- Toko Online : Keuntungan memilih WordPress + Plug ini ecommerce
- Toko Online : Tips Memilih CMS Worpress + Ecommerce atau Opencart?
- Strategi Bisnis : Memilih belasan CMS toko online pola e commerce
- Strategi Bisnis :Aspek penting dalam usaha toko online
- Strategi Bisnis : Memilih CMS untuk toko online
- Strategi bisnis : Titik krusial bisnis berbasis kemitraan adalah keunikannya
- Website : Menjadi Web Developer harus bisa mengedukasi pelanggan
- Kewirausahaan : 3 hal yang sering melekat pada pengusaha muda
- Strategi Bisnis : Web bisnis dengan unsur Character Building
- Bisnis : Nilai Seni & estetika dalam meningkatkan kekuatan Web perusahaan
- Marketing : Sedikit kesalahan UKM dalam memanfaatkan media online
- Peluang Usaha : Memulai Usaha butuh kreatifitas
- Strategi Bisnis : Meluruskan tujuan membangun web bisnis
- Peluang Usaha : Memulai Usaha asal nekat? Pahami dimensinya
- Marketing : Membangun Web Bisnis, perkaya dahulu konten
- Strategi Bisnis : Memacu persaingan toko tradisional agar tidak terpuruk minimart waralaba
- Strategi Bisnis : persaingan toko tradisional vs minimart waralaba
Tulisan setema lainnya :
Komentar
Ingin menanggapi?





