Kenapa iklan harus belajar dari pendahulu & pesaing

Kalimat di atas, sebagai judul ‘Kenapa iklan harus belajar dari pendahulu & pesaing’, saya artikan dahulu agar tidak timbul persepsi yang salah. Jadi dalam perjalanan waktu  kita kadang tidak memiliki pengetahuan dasar dalam menyusun iklan, sehingga memiliki pengertian yang sempit bahwa iklan yang penting desain keren, video modern megah, gambar heboh, koran termahal dll

Baca selengkapnya

Bisnis:Bersaing tidak harus memiliki 100 keunggulan

Bisnis yang eksis hingga 40 tahun, seperti merek Indomie, Coca cola, dan lainnya coba amati apakah mereka memiliki keunggulan hingga 100 buah? Mereka ini lebih mengedepankan strategi bisnis yang berbasis riset pelanggan orientasinya kepada keunggulan yang benar-benar dekat ke konsumen, karena kita  ketahui kadang keunggulan bisa juga lebih dekat kepada produsen, biasanya ditandai dg penjualan yg tidak bagus, kurang direspon pasar, ‘keunggulan’ tidak bisa sepihak dirumuskan oleh produsen, tetapi juga melibatkan konsumen. Itu juga ketika Mie Sedap akan memasuki pasar Indonesia maka butuh 2 tahun meriset pasar dengan dana milyaran, namun setidaknya  lebih dr 15% pasar pesaing yg waktu itu dikuasai Indomie, tergerus keberadaan Mie Sedap.

Baca selengkapnya

Ketika iklan Anda tidak mampu menstimulasi lagi

Logika sebuah iklan adalah merangsang individu untuk memilih, mengumpulkan informasi, menjterjemahkan pesan dengan logika masing-masing orang. Yah itu prinsip dasar dari sebuah iklan ketika dihadirkan kepada khalayak umum, masih ada sifat individual di awalnya, walaupun nantinya pastilah ada perkembangan yang menimbulkan persepsi kolektif, meski hanya dalam lingkup keluarga, sekola, kuliah  dan group.

Kembali kepada rangsangan iklan kepada individu maka yang harus diperhatikan sejauh mana itu bisa menempus lapisan-lapisan memori dari manusia. Secara umum dan awam dapat digambarkan bahwa ketika iklan itu diterima oleh indera manusia yang disebut sensory receptor. maka informasi yg diterima akan ditampung itu menjadi stimulus, rangsangan-rangsangan sensory input. Baca selengkapnya

Konsumen tidak sekedar mengenal merek secara sempit

Konsumen mengenal merek dengan berbagai cara, dan belum tentu mengenal merek diawali dari sebuah pembelian, membaca sebuah iklan, tetapi juga bisa karena merek itu menjadi bagian dari SDM nya, dari pengumuman award, dll. Sehingga merek itu sendiri seperti angin yang akan tertiup kemanapun sesuai arah angin dan tekanan kuat rendahnya.

Dari sanalah merek itu akan meniti beberapa tahapan yang secara awan, dengan bahasa umum, maka bisa saya tuliskan : Baca selengkapnya

Dua tahapan kecil konsumen ke merek

Saat ini banyak sekali bertebaran merek-merek yang rasa-rasanya konsumen juga harus lebih butuh waktu untuk memilih, butuh sedikit ingatan yang lebih, butuh lebih sensitif terhadap perbedaan nyata, masing-masing dari merek.

Dalam marketing klasik,  ada sikap konsumen terhadap merek yang setidaknya dapat menjadi dasar kita, masuk kepada pemahaman dasar terhadap sikap konsumen terhadap merek.

Baca selengkapnya

Marketing : Manfaat kemasan tidak sekedar bungkus

Jika kita melihat perkembangan teknologi saat ini terutama untuk desain dan media cetak, mungkin kita cukup kagum terutama saat ini juga mempengaruhi  dalam bidang pembuatan kemasan, kualitas kemasan mengalami peningkatan yang sangat berarti,  ini harus disikapi menjadi nilai p0sitif  terutama dalam peningkatan penjualan dan kemajuan branding.

Nah untuk memperdalam dari sisi manfaat kemasan ada beberapa hal yang perlu di ketahui, namun ini berangkat dari survey kepada konsumen, apa yang paling penting, paling menarik bagi konsumen. Agar manfaatnya tidak sekedar membungkus…

Nah dari kacamata konsumen ada beberapa hal yang menjadi penting : Baca selengkapnya

Bisnis : Menjadikan harga bukan alasan pembelian atau penolakan

Di era lama masih banyak beranggapan bahwa harga adalah satu-satunya nyawa dalam keuntungan, dalam bahasa awam harga tinggi bisa mendatangkan laba yang tinggi. Namun belum tentu pada era sekarang, karena ada banyak alasan konsumen yang tidak lagi mempertimbangkan faktor harga sebagai alasan membeli atau alasan untuk menolak penawaran produsen.

Kondisi-konsidi ketika harga bukan sebagai alasan utama, sejatinya muncul karena konsumen tidak memiliki kepekaan yang tinggi terhadap logika harga, lebih mengedepankan kepada emosionalnya, kepada ‘selera’ dan prestisenya.  Semua ini menjadikan rumus bahwa konsumen sejatinya memiliki kepekaan harga yang berbeda-beda.

Ambil contoh, saya tidak pernah tertarik dengan penawaran HP CHina, entah kenapa meski fitur sangat canggih, karena saya sudah memiliki  pengalaman dan cerita yang membuat unsur emosinal saya menolak HP murah produk china, yang sekarang di level 300ribu-500ribu sudah bisa membeli Smartphone dengan OS Android dan touchscreen.

Sehingga jika dirumuskan ada faktor-faktor yang mempengaruhi masing-masing konsumen

  1. Produk memiliki kekhususan tersendiri, meski mahal itu bukan alasan untuk ditolak, dahulu ada Laptop Mac Apple yang katanya tidak mudah kena virus, beda dengan Windows. Sehingga pebisnis memikirkan keamanan data lebih segalanya dari harga laptop.
  2. Pembeli tidak begitu mengerti, produk sejenis sebagai pembanding, ini terjadi ketika seorang rekan masih fanatis terhadap blackberry waktu itu, karena hanya Blackbbery yang ada BBM sebagai tool personal mesege terakurat karena melekat kepada perangkat (hanya blackbbery tidak bisa yang lain), tercepat, ter-asyik saat itu, namun ketika dalam perjalanan sekarang ada Android dengan Whatsapp-nya kondisi akan sangat berbeda. Pada awalnya orang berbondong-bondong membeli Blackbberry meski seharga 5-8 juta.
  3. Rendahnya biaya perawatan, terutama untuk instansi, menjadi hal penting. Ketika ada pejabat membeli Toyota Camry, kemudian saya tanya alasan pengadaaan-nya karena memang garansinya menyeluruh, pernah mobil kejatuhan buah Pakel, atap penyok, belok nyenggol pagar, kemudian shock breker dirasa kurang empuk, hingga diganti 3 kali, semua free, padahal 1 set perangkat 8 jutaan, sudah ganti 3 kali, tanpa pengeluaran. Ada rekan membeli perangkat Digital Printing, harganya lebih mahal 2 kali lipat dari produk China, tapi tetap dibeli karena digaransi sekian waktu jika rusak service gratis, termasuk pernah mendatangkan teknis dari luar negeri, namun semua dijamin karena garansi, persoalan dalam hal ini bagi pelaku bisnis, agar usahanya tidak tersendat  hanya karena service, lebih baik beli yang lebih bagus dan ada garansi jelas secara full.
  4. Produk secara emosional mewakili sebuah simbol gengsi, kualitas,  dan ekslusif/terbatas. Itu kenapa jam tangan seharga 40 juta dibeli, ada anak muda dibelikan ayahnya mobil 6 Milyar? Karena ada strata kelas, yg sangat emosional

Rasionalitas kadang tidak menjadi alasan utama, karena ada faktor emosional yang juga cukup menjadi keputusan membeli ingin serba cepat, serba bersaing, serba bisa segera menunjukkan sesuatu, harga berapapun tidak masalah, itu kenapa ketika tetangga saya yg masih TK dibelikan Blackberry yang cukup mahal, maka yang dibelikan pun tidak tau alasannya. Karena kepekaan anak dan orangtua pun bisa beda.

Provider seluler banting harga perangkat bundling

Provider seluler ternama, setidaknya di 3 tahun terakhir, mulai 2010-2012, terus menggelontor pasar dengan paket bundling perangkat seluler dengan kartu perdana dengan harga yang sangat murah, bahkan kadang tidak masuk di akal bisa semurah itu, ada Esia dengan HP senilai ratusan ribu, dengan isian perdana berpulsa puluhan ribu, ada Telkom Flexi, juga ada Smartfren dengan HP ratusan ribu dengan layar warna.

Kenapa mereka seperti ini? Ini memang sudah dikatakan oleh  Jack Welch, Pebisnis dari General Electric (GE) bahwa ; “Apabila kecepatan perubahan suatu bisnis dilampaui oleh kecepatan di luar perusahaan maka akhir dari perusahaan itu sudah dekat”

Relevan memang statemen ini, ketika Provider seluler awalnya mengusung paket bundling dari HP ternama yang harganya 3-7 jutaan, tidak mampu menusuk di pasar dengan cepat, karena memang kondisi di luar, HP murah dari China membanjiri pasar Indonesia, dengan mengusung fitur2 yang semakin beragam dan terbaru, tentu ini tidak bisa menjadi provider seluler itu EGOIS terhadap pilihan harga yang selalu mengusung kepada produk bundling HP yang premium, mereka sadar ketika pasar eksekutif sudah masive, maka perlu membidik segmen dengan target HP yang low end.

Rumusnya adalah siapapun yang sudah terlanjur masuk pasar dengan harga dan produk, didukung dengan promosi terbuka, maka mereka mau tidak mau sudah pada persaingan yang sangat luas, sehingga pesaing bisa melakukan respon dan perubahan yang cepat, dengen manuver yang jauh lebih berani lebih dekat dengan konsumen. Dan yang terpenting pada saat itupulah konsumen akan pandai membandingkan.

Sehingga memang cara terbaik dari menang dari kondisi ini adalah menyeimbangkan irama pasar dengan irama bisnis di perusahaan Anda, karena market sekarang bisa menentukan ‘nilai dari harga’ produsen, bahkan dengan respon yang sangat simpel, yaitu “tidak mau membeli” dan mengajak dalam keluarga/koloni/komunitasnya untuk juga merekomendasikan produk lain, dengan alasan yang bisa saja sangat simpel, tidak perlu sangat teknis.

Strategi Marketing : Memahami 4 level konsumen

Masih dalam kaitan diskusi dengan salah satu rekan yang memilki usaha cukup baik, maka kita asik juga soal dikusi tentang perilaku konsumen. Mengintip perilaku konsumen adalah salah satu cara dari sekian banyak yang bisa kita jadikan alasan untuk mendekati cara terbaik yang bisa langsung di respon konsumen, karena jika tidak maka kita akan sulit mendekatinya walau dengan media yang bertubi, tim marketing yang banyak.

Tujuan utama dari pembahasan perilaku konsumen adalah karena memang sebenernya ada 4 level terhadap konsumen tersebut :

  1. Prospek, yaitu pihak yang sudah mengenal bisnis kita, atau sudah kita kenalkan tetapi belum sekalipun membeli/transaksi  dalam pengamatan saya dalam forum, milis, komunitas banyak yang masih sebatas prospek, apalagi kalau kita masuk ke milis “dengan tujuan diem2 hanya mau promosi, walau ada artikel kecilnya tapi itu hanya kamuflase, maka seperti ini jika tidak dengan sistem rayuan benefit yang sebenarnya maka hanya memposisikan sebagai prospek. Ada lagi dalam istilah lain prospek adalah orang yang sedang mengamati tetapi belum melakukan kontak apapun, terutama dalam media onlinem sehingga perusahaan harus aktif jemput bola.
  2. Pelanggan, adalah orang yang benar sudah bertransaksi baik membeli jasa atau barang.
  3. Klien, adalah orang yang rutin bertransaksi, membeli dari apa yang kita miliki baik jasa atau produk
  4. Advocates, adalah mereka yang sudah puas atau sangat puas dengan jasa atau layanan kita sehingga akan berusaha menceritakan kepada pihak lain. Nah perusahaan harus peka terhadap tipe ancovates ini karena di sinilah bisa saling bersinergi. Namun harus diingat, advocates ini memiliki kecenderungan obyektif, sehingga jika perusahan intervensi maka sebaimnya secara bijak, dan dengan cara  smooth. Karena akan beda posisinya jika sudah menjadi bagian dari marketing independent, bedanya akan sangat kelihatan membujuk terus, merayu terus, sehingga posisikan Advocates secara obyektif jangan buru2 ditawari jadi marketing independent

Baca selengkapnya

Strategi Bisnis : Manfaat merek bagi bisnis

Ngapain harus Brand building ? Ngapain harus membangun images bagi merek kita? Ngapain harus bayar mahal untuk promosi  dengan tujuan memberikan kesadaran merek?

Itu pertanyaan diatas sering muncul saat saya memberikan pelatihan & seminar strategi brand building. Namun semua saya anggap wajar saja, karena memang di Indonesia mayoritas UKM & UMKM  lebih fokus menjual produk, membuat produk, memacu penjualan dan hanya sebagian yang melakukan agresi brand building.


Secara umum  manfaat dari membangun brand adalah :
Baca selengkapnya

Bisnis : Konsumen memiliki kekuatan menentukan harga

Hermawan kartajaya mengemukakan bahwa dalam penentuan harga di era Newwave marketing saat ini, tidak lagi hanya  sepihak dari produsen, dengan strategi penentuan harga yang kuno. Hal ini karena  perubahan mendasar justru terjadi ketika konsumen pun sangat mempengaruhi keputusan harga dari produsen.  Sehingga harga naik turun layaknya currency,  yang memang ada pengaruh dari demand supply, walau tidak seperti dalam kondisi pasar bebas di pasar yang sangat spekulatif

Posisi konsumen sangat kuat, dengan perilaku penolakan pembelian secara individual, memberi komentar di media social, forum online dan bahkan di media terbuka lainnya yang kadang bersifat permanen.

Sehingga saat ini pun, tool untuk mengamati ‘apa kata konsumen” di social media, menjadi laris manis, mendapatkan order untuk mengamati secara real time, ketika masyarakat membahas tentang sebuah produk, merek dan trend yang ada. Ini hanya menunjukkan bahwa respon pasar dapat begitu cepat bergerak, terutama di era informasi ini, berbeda dengan dahulu yang seakan konsumen sekedar memberikan opini atas sebuah harga, namun di era informasi bisa menjadi pengaruh, mempengaruhi dan saling bersepakat untuk review atas harga dari sebuah produk, antar Negara pula, atau pergerakan untuk menolak membeli, atau badai komentar negatif yang bergerak secara masal, seperti beberapa kasus lambatnya Internet dari provider beberapa tahun lalu.

Sehingga konsumen saat ini memiliki kekuatan pergerakan, untuk menentukan  nilai yang akan dibayarkan untuk sebuah produk. Dalam istilah Hermawan Kartajaya  ini sebagai co-creation.

Sehingga dalam hal ini, tampak bahwa pelaku UKM pun sudah layaknya melihat respon pasar, baik itu dalam pembeliaan, tidak membeli namun memberikan opini, tidak tertarik namun mengkritisi, atau bebeapa saran dan fitur yang diharapkan atas sebuah harga, karena pada dasarnya setiap orang memiliki anggapan Value yang berbeda-beda atas sebuah produk, tidak bisa produsen sepihak menggangap value yang dibangun selalu sama dengan apa yang dipikirkan oleh konsumen, sehingga itu lah perlunya riset.

Strategi Marketing Dan Promosi : Pentingnya Mengenali Motif Pembelian Masyarakat

Strategi marketing, menjadi materi yang paling diiginkan menurut data survey blog ini. Secara umum strategi marketing harus dilandasi dari pemahaman manajer marketing, direktur pemasaran atau CEO akan arti pentinya motif pembelian seseorang terhadap produk atau layanan, karena motif tersebut dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan implementasi strategi marketing baik saat kegiatan produksi/pemasaran reguler/rutin  maupun isedentil misal ketika promosi, event, sponsorship dll.

Secara mendasar AH. Maslow, USA, telah menyusun sebuah hirarki keinginan manusia dalam 5 tingkatan:

Baca selengkapnya

Bisnis & Marketing

Langganan Artikel Bisnis Marketing Toko Online Wirausaha

  • Begitu ada artikel baru, Anda dapat email pemberitahuan