Dalam seminggu ini, bersyukur bisa mengunjungi banyak pelaku usaha dengan berbagai fenomena merek yang ada, meski itu usaha rumahan. Banyak sekali peluang usaha yang bisa di bangun dari rumah, mulai dari yang menggunakan media online maupun yang di offline, namun kematangan dalam memahami merek masih kurang, belum sadar untuk mendaftarkan merek ke Dirjen HKI, atau menganggap merek adalah sekedar pelengkap biasa.

Seberapa pentingkah merek?
Benarkah bisnis usaha rumahan, harus juga memperhatikan merek? Ya, harus, karena identitas dari sebuah produk, ada di mereknya. Ibarat segelas kopi dengan gelas plastik kosong, dibanding segelas kopi dengan gelas plastik bertuliskan STARBUCK, tentu kesan produk kopinya akan berbeda. Ketika ada produk makanan ringan yang dirasa enak rasanya, maka yang akan dikenali adalah mereknya. Adanya merek memudahkan orang mengingat akan keunggulan sebuah produk, sehingga ketika membeli kembali produknya, ketika mengabarkan kepada orang lain akan enaknya makanan ya mereknya yang akan disampaikan,

Seorang ibu akan banyak mengingat banyak merek dagang, dari produk yang ada saat ini, misal dari produk makanan, sabun, sampo, bumbu masak, pasta gigi, susu, sandal, tas, minyak goreng, minyak gosok dll. Semua yang diingat adalam mereknya. Bayangkan jika 200juta orang di Indonesia ingat terus akan merek produk kita, betapa mudah menjual produk, di manapun berada, selam merek tersebut diasosiasikan secara positif.

Identitas merek adalah identitas khas dari sebuah merek yang dirumuskan, dikreasi untuk menguatkan ciri-ciri khas, atribut khas, sehingga bisa menjadi mudah dibedakan dan diingat konsumen. Sebenarnya, identitas merek yang suka disebut brand identity berbeda dengan brand association, tapi dalam banyak tulisan di media online, dianggap sama. Ya sudahlah.

Identitas merek gambarannya seperti ini: ketika ingat produk Microsoft, mungkin ada yang ingat sofware di laptop yang dominan warna biru. Ya itulah, kata kuncinya warna biru. Kalau ada yang ingat provider seluler Indosat Oreedo, yang diingat warna kuning merah. Nah warna itu bagian dari brand identity.

Identitas merek adalah kesatuan ciri yang diingat ke sebuah merek. Baik itu warna, logo, suara, bahkan aroma. Loh kok aroma? ketika di mall lalu tiba-tiba ada aroma melintas, lalu kita mengetahui itu adalah aroma masakan khas Mac Donald, aroma khas dari KFC, maka aroma bagian dari Identitas merek .

Begitu juga dengan warna. Sehingga banyak bisnis rumahan yang mengabaikan unsur dari Identitas merek ini, sebagai cara untuk bersaing, agar cepat merasuk dalam ingatan dan benak konsumen.

Beberapa hal contoh yang dapat dipelajari, tentang unsur Identitas merek , antara lain :

Logo
Identitas yang menjadi cirikhas adalah logo, baik itu berbentuk tulisan, gambar atau coretan. Dalam Identitas merek maka logo bagian dari yang paling khas. Pastikan logo mudah diingat, dikenali dan dibaca dalam waktu singkat. Banyak selali UKM membuat logo dengan simbol gambar dan teks yang susah dikenali. Pun bisa dikenali, harus butuh waktu, misal huruf dengan latin, yang sulit dibaca dengan cepat, warna tidak kontras, jenis huruf yang rumit bentuk/tipografinya.

Warna
Mungkin dalam membangun brand, terutama aspek identitas merek , warna menjadi ciri dan identitas yang sebaiknya dijaga konsistensinya. Misal dapat kita lihat, dari perusahan seluluer TELKOMSEL, menggunakan warna merah sebagai ciri khas. Kemudian perusahaaan seluru Indosat Ooreedo, dengan warna kuning dan merah. Beranikah mereka berubah-ubah warna dalam pengembangan mereknya? tentu berpikir panjang

Selain 2 hal di atas alam membangun kuat untuk aspek brand identity, masih ada beberapa yang perlu dipahami, antara lain:

• Tipografi
• Karakter Desain
• Fotografi
• Ilustrasi
• Ikonografi
• Visualisasi data
• Elemen interaktif
• Video dan animasi
• Desain dan tampilan web

Jaga kuat konsistemsi dalam menggunakan brand identity, karena