Ketika Iklan Anda Tidak Mampu Menstimulasi Lagi, Ayo Reformasi

Logika dari tujuan sebuah iklan adalah untuk  merangsang orang untuk memilih, mengumpulkan informasi, menerjemahkan pesan dengan logika masing-masing orang, sesuai kemampuan, dan kondisinya. Yah itu prinsip dasar dari sebuah iklan ketika dihadirkan kepada khalayak umum, masih ada sifat individual di awalnya, akan ada respon yang berbeda-beda pada setiap orang. Namun, nantinya pastilah ada perkembangan, setelah persepsi per orang, akan nailk menjadi persepsi banyak orang/kolektif. Dari perkembangan dari persepsi setiap orang terhadap sebuah merek, lalu berkembang persepsi bersama-sama di banyak orang, ada fase, yang berjalan alamiah, misal mulut ke mulut, rekomendasi, viral atau review.

Yuk kembali kepada rangsangan iklan kepada individu dulu ya. Dalam beriklan harus diperhatikan sejauh mana itu bisa menembus lapisan-lapisan memori dari manusia. Secara umum dan awam dapat digambarkan bahwa iklan yang ditampilkan terus menerus, siang malam, di berbagai bentuk media, adalah upanya untuk mengirim stimulus-stimulus ke benak konsumen. Setelah konsumen menerima banyak stimulus, diharapkan menjadi informasi yang utuh dibenak konsumen, sehingga menjadi sebuah ingatan yang terus hidup. Dalam bahasa awam, bukan ilmiah, yang namanya informasi bisa mati/tidur di benak konsumen, tapi bisa mudah dihidupkan kembali menjadi ingatan yang “berdansa”. Itu kenapa iklan tidak henti-hentinya dilancarkan di TV, di koran, di media online.

Lalu bagaimana iklan itu memempengaruhi seseorang? Sebelum mendesan sebuah iklan, baiknya rumuskan dulu, pesan-pesan bisnis apa saja yang mau disampaikan? Ada beberapa contoh yang ada di media saat ini :

Pertama, iklan dengan sentuhan produk
Digambarkan dalam sebuah iklan, tentang ketangguhan mobil ditanjakan, luasnya interior mobil, keluarga tersenyum bercanda ceria di dalam mobil. Harapannya mobil bukan sekedar alat transportasi, tapi cara membahagikan keluarga. luasnya interior mobil, keluarga tersenyum bercanda ceria di dalam mobil. Harapannya mobil bukan sekedar alat transportasi, tapi cara membahagikan keluarga.

Kedua, iklan dengan  sentuhan sisi pemakainya
Digambarkan dalam sebuah iklan, tentang beberapa artis menggunakan produk tertentu setiap hari. Dari artis itu ada wanita, mewakili target pasar wanita, ada artis pria, mewakili dari target pasar kaum pria.  Ada juga iklan, di mana seorang artis cantik menggunakan busana mulism merek tertentu, dengan kesan artis makin cantik karena busana elegan dan desainnya, stimulusnya diharapkan mencapai persepsi bahwa jika ingin seperi artis, gunakan produk merek tersebut.
Ada juga iklan yang menggambarkan pemakainya, yaitu produk mobil yang digambarkan begitu iritnya, sehingga dalam iklan menggambarkan betapa bahagianya para pedagang, pengusaha dan pimpinan perusahaan menggunakan mobil tersebut. Stimulusnya mobil sebagai solusi penghematan biaya transportasi dalam bisnis.


Ketiga, iklan dengan  sentuhan sisi manfaat
Digambarkan dalam iklan di sebuah perumahan, prestasi anak-anaknya meningkat, karena memakai sabun tertentu. Logika yang dibangun ternyta, dengan sabun mandi yang baik jauhkan dari dampak penyakit karena kuman bakteri sehingga selalu sehat, bisa belajar, masuk sekolah. Sewaktu kecil, bahkan saya heran dengan sebuah iklan dengan kalimat “1 lembar keju setiap hari, anak cerdas dan sehat”. Heran, karena ternyata kecerdasan bisa dibangun dari selembar keju setiap hari ya? Ada juga

Keempat, iklan sentuhan dari  proses pembuatan
Digambarkan dalam iklan, ada perusahaan susu, dengan pabrik yang luas dan modern, dan peternakan sapi dekat dengan lokasi, agar tetap higienis, dan persepsi susu segarnya terbangun. Iklan ini menonjolkan proses yang benar-benar aman dan kesan segar dari sapi. Adanya juga iklan dari produk minyak goreng, yang menonjolkan proses penyaringan 2 kali, dengan kesan, bahwa minyak berkualitas dan benar-benar bersih, aman di konsumsi, padahal hampir semua pabrik minya menyaring nya memang 2 kali, bahkan ada yang lebih.

 

Ketika iklan itu diterima oleh indera manusia yang disebut sensory receptor. maka informasi yg diterima akan ditampung itu menjadi stimulus, rangsangan-rangsangan sensory input. Dalam perjalanannya kemudian semua itu akan menjadi perhatian, jika memang ada kecocokan informasi yang diterima, maka perhatian-perhatian itu akan menjadi sebuah persepsi, namun persepsi yang diterima dari banyak nya iklan itu akan berbeda diterima oleh setiap individu, karena informasi iklan yang sekilas itu akan digambarkan dengan logika masing-masing inddividu yang menerimanya.

Misal saya gambarkan secara pribadi, ketika ada iklan pembalut wanita yg memberikan terobosan dari faktor anti kanker rahim, maka bagi pria, iklan-iklan  itu akan memiliki dampak gambaran persepsi yg berbeda-beda di benak individu, misal antara pria yang masih remaja, pria sudah memiliki istri, atau pria yang berprofesi sebagai dokter kandungan, bisa di tes atas sebuah iklan yang sama namun memiliki hasil  gambaran di benak konsumen, dalam bentuk yg berbeda.

Sehingga dari sini perlu diberikan garis merah, sebelum membuat iklan, beberapa hal perlu dipertimbangkan, jika dalam ulasan sy pribadi sbb

  1. Tentukan audience dari iklan tersebut
  2. Tentukan tujuan iklan
  3. Tentukan pesan-pesan yang sempit maknanya agar mudah diingat, jangan konsumen distimulasi dg 100 informasi dalam sebuah iklan tentang detil produk tersebut, tidak akan masuk semua informasinya.
  4. Tentukan media yang bisa begitu dekat dengan audience ini.
  5. Tentukan momentum, dalam hal ini menurut sy momentum lebih tinggi levelnya dari sekedar waktu/timing dalam iklan.
  6. dan seterusnya

Dalam 1 bulan ini saya menyaksikan ketika ada sebuah toko baru di bidang barang pelengkap pariwisata, di area komplek pariwisata, maka ketika toko itu menawarkan  5%  bagi pengantar ke toko itu misa tukang becak, taksi, andong, guide dan sopir rental wisata, maka makna “5%” tidak begitu menjadi stimulasi dan perhatian khusus, karena pada toko yang ada sebelumnya dengan jenis produk yg sama, menawarkan 10 sd 30% komisi.

Begitu juga ketika ada sales motor yang menawarkan kendaraan dengan kecepatan  tinggi hiingga 120km/jam, kepada pembalap, mungkin stimulasi itu tidak begitu menarik, karena motor yang dipakainya setelaj modifikasi mampu lari 180km/jam.

Makna dari tulisan ini adalah, pentingnya dipikirkan kembali apakah iklan kita mampu dengan benar dan tepat menstimulasai, dan menjadi stimulus, perhatian konsumen,kemudian menjadi perhatian mereka secara individu dan kelompok, atau hanya sekedar informasi yang tidak dianggap penting dan lewat begitu saja. itula pentingnya riset, observas pasar, dan ketepatan media.

Tulisan menarik lainnya

Tentang penulis : Ipan Pranashakti

Praktisi bidang online marketing, marketing era digital, menekuni bidang online sejak 1998, Lebih dari 70 kali menjadi narasumber seminar/workshop/talkshow di berbagai kota di Indonesia, dengan lingkup materi Strategi menangkap peluang usaha offline dan online, Strategi Marketing, SEO, Social Media Optimization, Toko Online+Ecommerce, Netpreneur, Kewirausahaan. ------------------------------------------------------ Contact Person : 0815 787 22222 ( SMS Only) Email : ipan999@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebelumnya mohon isi perhitungan berikut. * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.