Marketing : Meningkatkan omzet produk fashion

Sudah berkali-kali mengisi sharing marketing yg dihadiri para pengusaha fashion, mulai dari Pengusaha fashion tanah abang, batik pekalonganm batik solo, pengusaha fashion di derah jawa barat dll. Biasanya pertanyaan muncul secara klasik “bagaimana meningkatkan omzet produk fashion”. Ada banyak sekali cara meningkatkan omzet untuk produk fashion, bahkan mungkin jika digabungkan antara marketing online dan offline akan bisa lebih cepat diserap di pasar dengan dampak omzet yg drastis dan harga fantastis, ada pengusaha batik di jawa tengah beli ke pengarajin 300ribu dijual 1.6juta adalah biasa, namun loncatan pasarnya menggunakan media online.

Namun apapun jawabannya,  yang perlu ditekankan adalah bentuk upaya peningkatan omzet ini harus di tentukan dari sisi mananya? Kesiapannya ada di titikk yang mana, karena tentu kondisi masing-masing pengusaha berbeda, sehingg cara meningkatkan omzet bergantung pd karakter dan potesial review masing-masing:

  1. Produk
  2. distribusi Pemasaran
  3. Model
  4. Lini Model
  5. Variasi (ukuran, warna, dll)
  6. Jangkauan pengiriman
  7. dll

Nah ambil contoh untuk nomor 2, mungkin bisa dikembangkan cara dapat meningkatkan omzet dari sisi pemasaran, artinya dilakukan upaya DIVERSIFIKASI PASAR dengan melayani 3 segmen yang berbeda. khusus utl level UKM, misalnya.

  1. Segmen perorangan, dan masih fokus kepada pelayanan skala kecil dengan tingkat variasi layanan yg sangat beragam, bergantung tigkat kemauan pelangganperorangan, misal soal ukuran, warna, model, dll Pada lini ini memang akan terasa kita lebih bisa mengenal selera pelanggan dengan jelas, karena ada gambaran komunikasi langsung.
  2. Segmen sistem distributor atau keagenanan, yang intinya melayani dengan konsep keagenan dalam hal ini lini depan dengan pelanggan perorangan akan bergeser ke agen, namun di sisi lain tentu akan ada komunikasi yg lebih intens berkenaan informasi produk baru, perubahan harga, kirimanm barang, return dan tagihan2 pembayaran jika  untuk sistem bayar tempo.  Biasanya berjalan untuk memperluas jangkauan pemasaran berbasis wilayah, misal  ke luar jawa dll
  3. Segmen dengan reseller. Beda dengan agen, mungkin reseller lebih bersifat putus, artinya ketika di konsep keagenan ada batasan harga tertinggi, ada pembelian minimal yg kuat dengan rebate yg menarik, ada komisi. Namun juga di sisi lain ada target penjualan. Nah di sistem reseller sistem putus ini menandakan sepertinya layaknya disediakan diskon besar untuk pembelian skala besar, beli 1 kodi seharga xxxx. Berkenaan target penjualan maka tidak diatur.
  4. dan lain sebagainya

Nah inti dari tulisan ini, ketika ditanya mau mengembangkan cara peningkatan omzet, tentukan dulu lini mana, sisi mana yang akan difokuskan, karena pada dasarnya omzet tidak hny masalah iklan dan promosi loh, ada sisi lain yang sifatnya layanan.

Fungsi online, selama ini bisa dimanfaatkan untuk komunikasik dengan pelanggan, agen, reseller, pengumuman katalog, untuk wadah komplain, untuk menjangkau informasi lebih luas ke negara lain dll

Masih banyak kreatifitas meningkan omzet melalui gabungan media online dan offline,  namun semua bergantung pada kondisi ke dalamnya.

Tulisan menarik lainnya

Tentang penulis : Ipan Pranashakti

Praktisi bidang online marketing, marketing era digital, menekuni bidang online sejak 1998, Lebih dari 70 kali menjadi narasumber seminar/workshop/talkshow di berbagai kota di Indonesia, dengan lingkup materi Strategi menangkap peluang usaha offline dan online, Strategi Marketing, SEO, Social Media Optimization, Toko Online+Ecommerce, Netpreneur, Kewirausahaan. ------------------------------------------------------ Contact Person : 0815 787 22222 ( SMS Only) Email : ipan999@yahoo.com

2 Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebelumnya mohon isi perhitungan berikut. * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.