Seorang wartawan senior di Yogya berbicara tentang Kehadiran Generative Artificial Intelligence (Generative AI) namun setelah diskusi mendalam, ternyata tool AI yang digunakan baru sekedar untuk merapikan konten, padahal bisa jauh lebih dari itu. AI telah menjadi salah satu titik balik terbesar dalam sejarah industri media modern. Sejak kemunculan ChatGPT pada akhir 2022, dunia jurnalistik memasuki fase transformasi yang berlangsung sangat cepat. Berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam kini dapat dilakukan dalam hitungan menit, mulai dari riset, transkripsi wawancara, penerjemahan, hingga penyuntingan naskah.
Namun, di balik euforia teknologi tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah semua ruang redaksi mengalami transformasi yang sama?
Selama ini, sebagian besar diskusi mengenai AI dalam jurnalisme didominasi oleh perspektif negara-negara maju. Padahal realitas di negara berkembang sangat berbeda. Ketersediaan infrastruktur digital, akses terhadap teknologi, kemampuan sumber daya manusia, hingga kebijakan organisasi media tidak selalu berjalan seiring dengan perkembangan AI yang begitu pesat.
Laporan terbaru Thomson Reuters Foundation berjudul Journalism in the AI Era: Opportunities and Challenges in the Global South and Emerging Economies yang diterbitkan pada Januari 2025 memberikan gambaran menarik tentang kondisi tersebut. Berdasarkan survei terhadap lebih dari 200 jurnalis dari lebih dari 70 negara di Afrika, Asia, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eropa Timur, laporan ini menunjukkan sebuah paradoks yang menarik: adopsi AI berkembang sangat cepat di kalangan jurnalis, tetapi sebagian besar organisasi media belum memiliki kebijakan maupun panduan yang jelas mengenai penggunaannya.
AI Sudah Menjadi Bagian dari Kehidupan Jurnalis
Salah satu temuan paling penting dalam penelitian ini adalah tingginya tingkat penggunaan AI di kalangan jurnalis Global South.
Sebanyak 81,7 persen responden mengaku telah menggunakan AI dalam pekerjaan jurnalistik mereka. Bahkan hampir separuh responden, yakni 49,4 persen, menggunakan AI setiap hari, sementara 30,6 persen lainnya menggunakannya setiap minggu. Angka ini menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari rutinitas kerja ruang redaksi saat ini.
Menariknya, penggunaan AI tidak semata-mata untuk membuat artikel secara otomatis. Sebaliknya, mayoritas jurnalis menggunakan AI sebagai alat bantu untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja.
Beberapa fungsi utama yang paling banyak digunakan meliputi:
- Penyuntingan dan penyempurnaan konten (55,3%).
- Penerjemahan bahasa (51,8%).
- Riset dan pencarian ide liputan (48,8%).
- Analisis data (42,9%).
- Fact-checking atau pemeriksaan fakta (37,6%).
Platform yang paling banyak digunakan adalah ChatGPT, disusul berbagai alat lain seperti Grammarly, Canva, Gemini, Otter, DALL-E, Midjourney, dan Meta AI.
Bagi banyak jurnalis, AI telah membantu mempercepat pekerjaan yang sebelumnya memakan banyak waktu. Seorang jurnalis dari Zimbabwe yang menjadi responden penelitian bahkan menyebut AI telah mengubah cara dirinya melakukan riset karena memungkinkan pengumpulan, analisis, dan sintesis data dalam jumlah besar secara lebih cepat.
Kondisi ini menunjukkan bahwa AI semakin berperan sebagai co-pilot dalam proses jurnalistik, bukan sekadar alat eksperimental yang digunakan sesekali.
Jurnalis Bergerak Lebih Cepat daripada Institusi
Di balik tingginya adopsi AI muncul persoalan yang lebih mendasar.
Sebagian besar organisasi media ternyata belum siap secara kelembagaan.
Laporan Thomson Reuters Foundation menemukan bahwa hanya 13 persen responden yang bekerja di organisasi media yang memiliki kebijakan resmi terkait penggunaan AI. Sebaliknya, sebanyak 79,1 persen responden menyatakan bahwa tempat kerja mereka belum memiliki pedoman yang jelas mengenai bagaimana AI boleh atau tidak boleh digunakan dalam proses jurnalistik.
Situasi ini menciptakan fenomena yang menarik. Di satu sisi, para jurnalis bergerak cepat memanfaatkan AI untuk meningkatkan produktivitas mereka. Namun di sisi lain, perusahaan media justru tertinggal dalam menyediakan arahan, pelatihan, maupun pengawasan.
Akibatnya, penggunaan AI banyak berkembang berdasarkan inisiatif individu, bukan strategi organisasi.
Sebagian besar jurnalis mengaku belajar secara mandiri. Sebanyak 57,6 persen responden memperoleh kemampuan AI melalui eksplorasi pribadi dan metode trial and error. Selain itu, 48,8 persen mengikuti kursus daring dan panduan online, sedangkan 40 persen memperoleh pengetahuan melalui webinar dan pelatihan eksternal.
Temuan ini mengindikasikan bahwa transformasi AI di banyak ruang redaksi Global South berlangsung dari bawah ke atas (bottom-up), bukan dari atas ke bawah (top-down).
Tantangan Khas Global South yang Jarang Dibicarakan
Tidak semua organisasi media menghadapi tantangan yang sama dalam mengadopsi AI.
Bagi media-media besar di Amerika Utara atau Eropa Barat, isu utama mungkin berkaitan dengan regulasi dan hak cipta. Namun bagi media di negara berkembang, persoalannya jauh lebih kompleks.
Salah satu tantangan terbesar adalah bias algoritma.
Sebagian besar model AI saat ini dibangun menggunakan data yang didominasi bahasa Inggris dan sumber-sumber Barat. Akibatnya, AI sering kali kurang memahami konteks budaya lokal, bahasa daerah, maupun dinamika sosial yang berkembang di berbagai negara Global South.
Dalam praktik jurnalistik, kondisi ini dapat memunculkan berbagai masalah. Mulai dari hasil terjemahan yang kurang akurat, kesalahan memahami konteks budaya, hingga munculnya perspektif yang terlalu berorientasi pada pandangan dunia Barat.
Selain bias data, akses terhadap teknologi juga masih menjadi persoalan penting.
Dari kelompok responden yang belum menggunakan AI, alasan terbesar adalah kurangnya pengetahuan dan pemahaman tentang teknologi tersebut (55,3 persen). Faktor lain yang juga dominan adalah minimnya pelatihan dan dukungan (52,6 persen), keterbatasan akses teknologi dan internet (47,4 persen), serta kekhawatiran terhadap akurasi AI.
Dengan kata lain, kesenjangan digital masih menjadi hambatan nyata yang dapat memperlebar jarak antara media yang mampu beradaptasi dan media yang tertinggal.
Kekhawatiran yang Tidak Bisa Diabaikan
Meskipun mayoritas jurnalis menggunakan AI, bukan berarti mereka menerimanya tanpa kritik.
Sebanyak 53,4 persen responden menyatakan memiliki kekhawatiran yang tinggi terhadap implikasi etika penggunaan AI dalam jurnalisme.
Kekhawatiran terbesar adalah hilangnya kreativitas dan pelaporan orisinal yang dipilih oleh 54,3 persen responden. Banyak jurnalis khawatir bahwa jika semua orang menggunakan alat yang sama, maka hasil liputan akan semakin seragam dan kehilangan kekhasan masing-masing penulis.
Selain itu, sebanyak 51,4 persen responden mengkhawatirkan menurunnya kemampuan berpikir kritis. Mereka menilai ketergantungan yang berlebihan terhadap AI dapat melemahkan kemampuan analisis, verifikasi, dan investigasi yang selama ini menjadi inti profesi jurnalistik.
Ancaman lain yang juga dianggap serius adalah penyebaran misinformasi. Sebanyak 49 persen responden mencemaskan kemampuan AI menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan tetapi sebenarnya tidak akurat, fenomena yang sering disebut sebagai AI hallucination.
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir sudah banyak contoh kesalahan AI yang menyebabkan publikasi informasi yang keliru, termasuk oleh media arus utama dunia. Karena itu, kebutuhan terhadap verifikasi manusia tetap tidak tergantikan.
Masa Depan Jurnalisme: Menguasai AI Tanpa Kehilangan Nilai Dasar
Dari seluruh temuan penelitian ini, satu kesimpulan besar dapat ditarik: AI bukan musuh jurnalisme.
Sebaliknya, AI berpotensi menjadi alat yang sangat kuat untuk memperkuat proses jurnalistik apabila digunakan secara tepat.
Laporan Thomson Reuters Foundation merekomendasikan beberapa langkah penting. Jurnalis perlu meningkatkan literasi AI dan memahami keterbatasan teknologi tersebut. Pemimpin redaksi perlu menyusun pedoman penggunaan AI yang jelas. Organisasi pengembangan media perlu memperluas pelatihan dan akses teknologi. Regulator harus membangun kerangka perlindungan data dan hak cipta yang memadai. Sementara pengembang AI perlu menciptakan model yang lebih inklusif bagi bahasa dan komunitas di negara berkembang.
Pada akhirnya, keberhasilan AI dalam dunia jurnalistik tidak diukur dari seberapa banyak artikel yang dapat diproduksi oleh mesin. Ukurannya adalah apakah teknologi tersebut mampu membantu jurnalis menghasilkan informasi yang lebih akurat, lebih berkualitas, dan lebih bermanfaat bagi publik.
Karena itu, mungkin ungkapan yang paling tepat bukanlah “AI akan menggantikan jurnalis”, melainkan:
Jurnalis yang mampu memahami, mengendalikan, dan memanfaatkan AI secara etis akan lebih siap menghadapi masa depan dibandingkan mereka yang mengabaikannya.
Di tengah derasnya gelombang transformasi digital, tantangan terbesar kita bukan menolak AI, melainkan memastikan bahwa inovasi tersebut tetap sejalan dengan prinsip dasar jurnalisme: kebenaran, akurasi, independensi, empati, dan kepercayaan publik.