ipan pranashakti narasumber bisnis online pemasaran pendidikan tinggi
Bertahan di Tengah Badai: Bagaimana Media Cetak dan Online Hidup di Era AI, Pasca-Kebenaran, dan Homeless Media

Bertahan di Tengah Badai: Bagaimana Media Cetak dan Online Hidup di Era AI, Post truth, dan Homeless Media

Ketika Berita Tak Lagi Datang ke Rumah Redaksi

Dulu, pembaca yang mencari berita datang ke koran atau situs berita. Kini berita mencari pembaca, lewat layar ponsel yang mereka gulir tanpa henti. Perubahan itu tampak dalam laporan terbaru Reuters Institute yang menyurvei 48 negara. Edisi 2026 menyimpulkan bahwa platform kini melampaui penerbit sebagai sumber berita utama di dunia, sementara kepercayaan pada berita kian rendah, kian tidak sentral dalam hidup sehari-hari, dan kian sulit dimonetisasi.

Di Indonesia, sebanyak 64 persen orang melaporkan memperoleh berita dari platform seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok. Tiga tekanan besar menghimpit ruang redaksi sekaligus: kecerdasan buatan (AI) yang menjawab pertanyaan tanpa mengirim pembaca ke situs berita, budaya post truth yang membuat fakta bersaing dengan rasa percaya, dan media “tanpa rumah” yang lahir dan besar di media sosial.

Tulisan ini membahas bagaimana media cetak dan online bertahan menghadapi ketiganya, bagaimana mereka mencari uang, dengan studi kasus dari Indonesia dan Amerika Serikat.

Peta Badai: Tiga Tekanan yang Datang Bersamaan

AI sebagai pintu baru berita. Penggunaan chatbot AI untuk berita mingguan naik dari 7 menjadi 10 persen secara global. Angkanya masih kecil, tetapi arahnya jelas. Dampak terbesarnya terjadi di mesin pencari: ringkasan AI menjawab pertanyaan langsung di halaman hasil, sehingga klik ke situs berita berkurang. Menurut data Reuters Institute yang dilaporkan Press Gazette, lalu lintas Google ke penerbit global turun sepertiga pada 2025, dan para pemimpin media memperkirakan penurunan rata-rata 43 persen dalam tiga tahun ke depan.

Post truth dan krisis kepercayaan. Kepercayaan pada berita global kini berada di 37 persen, terendah sejak survei dimulai pada 2015. Kepercayaan pada berita hasil chatbot lebih rendah lagi, sekitar 20 persen. Artinya, kepercayaan menjadi aset langka. Siapa pun yang mampu mempertahankannya punya modal pembeda di tengah banjir konten.

Homeless media. Akun informasi di media sosial tumbuh karena murah dibangun, cepat, dan dekat dengan komunitas. Posisinya pun menjadi polemik antara Bakom, Dewan Pers, dan media arus utama. Media konvensional harus bersaing dengan akun yang tak punya biaya kantor, tetapi juga tak selalu punya standar verifikasi.

Bagaimana Media Mendapat Uang? Dari Satu Kaki ke Banyak Kaki

Model bisnis lama bertumpu pada iklan. Model itu runtuh perlahan.

Indonesia: iklan menyusut, ketergantungan pada pemerintah

Dalam Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 di Surabaya pada 28 Oktober 2026, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) memaparkan temuan survei bersama Monash University Indonesia: iklan pemerintah pusat dan daerah rata-rata menyumbang 45,85 persen penerimaan iklan media yang disurvei, sementara iklan swasta 30,29 persen. Peneliti memperingatkan ketergantungan seperti ini dapat memicu sensor diri.

Ketua Komisi Digital dan Keberlanjutan Dewan Pers, Dahlan Dahi, menyebut kontribusi iklan banner dan programatik yang sekitar satu dekade lalu mencapai 10 persen kini tinggal sekitar 0,5 persen. Baginya, bertaruh pada model itu sudah “game over”.

Ketua Umum AMSI Wahyu Dhyatmika menawarkan peta jalan: langganan, keanggotaan, acara, komunitas, riset, data, hingga lisensi arsip dan konten untuk AI. Contohnya Tempo. Pageview-nya turun 33,5 persen pada tahun sebelumnya, tetapi pelanggan digitalnya naik hampir 36 persen. Wahyu menegaskan itu belum cerita sukses, melainkan proses belajar. Pelajarannya jelas: trafik bisa turun tanpa nilai jurnalisme ikut turun, asalkan media punya hubungan langsung dengan pembaca yang rela membayar.

Media lokal paling rentan. Dalam survei yang sama, 87 dari 122 perusahaan media kecil menyebut pilkada sebagai peluang iklan. Peneliti Ika Idris menilai, pendapatan media justru memuncak ketika liputan independen paling dibutuhkan publik. Wahyu menceritakan seorang wartawan yang mendirikan media lokal setelah kehilangan pekerjaan di Jakarta, tetapi akhirnya berhenti beroperasi karena tak memperoleh pendapatan.

Di sisi regulasi, Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 (Publisher Rights) mewajibkan platform digital bekerja sama dengan perusahaan pers, antara lain lewat lisensi berbayar, bagi hasil, berbagi data agregat pengguna berita, dan/atau bentuk lain yang disepakati. Namun pelaksanaannya dipertanyakan. Awal 2026, Bisnis.com menulis bahwa daya dorong aturan ini kian menyempit di tengah perundingan dagang Indonesia-Amerika Serikat.

Amerika Serikat: langganan digital sebagai mesin utama

The New York Times menunjukkan jalan yang bisa ditempuh media besar. Pada kuartal ketiga 2026, perusahaan itu menambah sekitar 420.000 pelanggan digital dan mengakhiri kuartal dengan sekitar 13,76 juta pelanggan cetak dan digital, termasuk 13,22 juta pelanggan digital saja. Pendapatan langganan digital mencapai US$421,25 juta, naik 14,6 persen, sementara iklan digital naik 12 persen.

Strateginya bukan sekadar berita. NYT menjual paket yang mencakup jurnalisme, Wirecutter, Cooking, Games, dan The Athletic, sehingga pembaca punya banyak alasan bertahan berlangganan.

Tidak semua media punya daya seperti itu. Laporan Medill, Northwestern University, mencatat 136 surat kabar tutup dalam setahun, dan sekitar 50 juta orang Amerika berada di “gurun berita” dengan akses terbatas pada berita lokal. Jumlah surat kabar di AS turun dari 7.325 pada 2005 menjadi 4.490. Laporan itu juga mencatat radio publik menjadi satu-satunya sumber berita di sembilan county, sementara pemangkasan dana federal untuk penyiaran publik berisiko memperlebar gurun berita. Meski begitu, ada harapan: lebih dari 300 media lokal baru berdiri dalam lima tahun terakhir, 80 persen di antaranya hanya digital.

Sumber pendapatan yang kini dipertimbangkan:

Sumber Contoh Catatan
Langganan digital NYT, Tempo Paling stabil, perlu hubungan langsung dengan pembaca
Keanggotaan dan komunitas Media lokal, AMSI Menggerakkan pembaca setia
Acara dan riset Forum, konferensi, data Tidak bergantung pada klik
Lisensi konten ke AI NYT-Amazon, USA Today Co Mulai menghasilkan, tapi belum jadi penopang utama
Iklan swasta langsung Sponsor, kemitraan Perlu dijaga dari konflik kepentingan
Dana publik atau filantropi Dana jurnalisme, hibah Perlu mekanisme yang menjaga independensi

Bertahan di Era AI: Dari Mesin Pencari ke Mesin Jawaban

Ada dua pertarungan sekaligus: soal uang dan soal kepercayaan.

Uang dari AI belum menggantikan klik. Digiday melaporkan, pada kuartal pertama 2026 USA Today Co untuk pertama kalinya mencatat pendapatan “notable” dari perjanjian lisensi AI, tetapi tak ada penerbit yang menggantungkan diri hanya pada itu. TollBit menemukan situs dengan perjanjian lisensi AI justru mengalami penurunan rasio klik lebih dari 6,5 kali lipat sepanjang 2025, dan referral dari AI baru sekitar 0,12 persen dari lalu lintas rujukan penerbit.

Perang di pengadilan. NYT terus menggugat OpenAI. Dalam laporan keuangannya, perusahaan itu menghabiskan US$3,8 juta untuk gugatan tersebut pada kuartal ini, dan total US$36,7 juta untuk perkara terkait AI generatif sejak 2024. Ongkos hukum itu menunjukkan bahwa membela hak cipta pun butuh modal besar.

Google sendiri mulai menawarkan jalur baru. Perusahaan itu menjalankan sejumlah program percontohan dengan penerbit, termasuk kontribusi AI berbasis nilai (pay-per-value), selain program News Showcase yang sudah ada. Bagi penerbit kecil dan menengah, daya tariknya bukan hanya pembayaran, tetapi juga akses data tentang kinerja konten di jawaban AI, hal yang kerap sulit mereka ukur. Beberapa penerbit besar bahkan secara terbuka mempertimbangkan memblokir Google, tanda bahwa tawar-menawar sedang memanas.

Dari semua itu, ada beberapa langkah yang bisa ditiru:

  1. Jual hal yang tidak bisa disalin mesin. Liputan lapangan, verifikasi, investigasi dokumen, dan penjelasan konteks. Wahyu Dhyatmika mengingatkan bahwa kecepatan dan volume produksi konten semakin mudah ditiru mesin.
  2. Bangun hubungan langsung. Buletin, aplikasi, kanal WhatsApp, dan komunitas pembaca membuat media tidak sepenuhnya bergantung pada Google atau media sosial.
  3. Atur akses AI dan perjuangkan lisensi. AMSI mendorong revisi Undang-Undang Hak Cipta, lisensi kolektif, dan negosiasi bersama agar posisi tawar media kuat.
  4. Optimalkan format yang mudah dikutip. Struktur jelas, data akurat, dan penulisan yang mudah dirujuk membantu konten tetap terlihat di jawaban AI.
  5. Gunakan AI secara etis di redaksi. Untuk transkripsi, ringkasan dokumen, dan analisis data, dengan pengawasan editor.

Bertahan di Era Post Truth : Kepercayaan sebagai Produk

Di zaman ketika klaim palsu menyebar lebih cepat daripada koreksi, media yang menjaga standar verifikasi punya sesuatu yang dicari: kepastian. Namun kepercayaan tidak otomatis diberikan, ia harus dirawat.

  • Transparan soal proses. Jelaskan sumber, cara verifikasi, dan koreksi bila keliru.
  • Pisahkan berita dari iklan. Konten berbayar diberi label jelas.
  • Jaga jarak dari penyandang dana. Ketergantungan pada iklan pemerintah disorot sebagai risiko sensor diri.
  • Ikuti standar profesional dan verifikasi Dewan Pers. Ini penting bagi pengiklan dan juga bagi pembaca yang ingin menimbang kredibilitas.

Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menekankan pada Hari Pers Nasional 2026 bahwa etika dan profesionalisme adalah fondasi kepercayaan publik, sekaligus mengingatkan guncangan bisnis akibat turunnya trafik dan iklan.

Bertahan di Era Homeless Media: Bukan Musuh, Tetapi Pesaing dan Mitra Potensial

Homeless media menunjukkan hal yang kerap dilupakan media besar: kedekatan dengan komunitas dan kecepatan. Pendapatan mereka umumnya berasal dari promosi berbayar dan endorsement. Namun tak semua homeless media sama. Ada yang masih informal, ada yang sudah berbadan hukum dan bahkan terdaftar di Dewan Pers, seperti Narasi. Good News From Indonesia (GNFI) memperlihatkan sisi rapuhnya: pendapatannya sekitar 80 persen dari iklan, dan pernah kehilangan akun dengan 200 ribu pengikut yang tiba-tiba hilang.

Bagi media arus utama, ada tiga pilihan sikap.

Belajar. Bahasa visual, tempo, dan gaya bercerita yang akrab bagi anak muda. Reuters Institute mencatat dunia berita kian dipimpin video dan kreator.

Bermitra dengan standar. Wahyu Dhyatmika mendorong kemitraan dengan kreator konten agar jangkauan meluas dan standar verifikasi serta etika jurnalistik ikut masuk dalam produksi konten.

Menegaskan pembeda. Media berbadan hukum, memiliki redaksi, mekanisme koreksi, dan perlindungan Undang-Undang Pers punya keunggulan yang tidak dimiliki akun anonim. Keunggulan itu perlu dikomunikasikan, bukan sekadar diasumsikan.

Di sisi lain, pelaku homeless media pun perlu “pulang”: membentuk badan usaha, menyusun prosedur redaksi, menulis kontrak iklan, dan membangun kanal cadangan agar audiens tak ikut lenyap bersama akun. Pola yang sama terlihat pada BuzzFeed, LADbible, dan Brut di luar negeri, yang bermula dari platform lalu membangun entitas bisnis yang utuh.

Nasib Media Cetak: Mengecil, Tapi Belum Mati

Di Indonesia, daftar media cetak yang berhenti terbit panjang: Tabloid Bola setelah 34 tahun, Sinar Harapan, Jakarta Globe, hingga Koran Tempo yang mengakhiri versi cetaknya. Di Amerika, hampir 3.500 surat kabar hilang dalam dua dekade.

Tetapi cetak tidak otomatis lenyap. NYT masih memiliki sekitar 540.000 pelanggan cetak. Pendapatan langganan cetaknya mencapai US$126,3 juta pada kuartal ketiga 2026, dan iklan cetak masih menyumbang sekitar 23 persen pendapatan iklannya. Jumlahnya menyusut, tetapi masih memberi arus kas.

Cara bertahan yang masuk akal bagi media cetak:

  • Menjadi produk premium dan terbatas. Edisi akhir pekan, majalah analisis, dan liputan mendalam yang pantas dibeli dan disimpan.
  • Menggabungkan cetak dan digital. Langganan paket, e-paper, buletin, dan komunitas pembaca.
  • Memangkas biaya tanpa memangkas mutu. Mengurangi frekuensi cetak, fokus pada wilayah yang masih kuat.
  • Menjaga rasa lokal. Medill mencatat banyak surat kabar independen yang tutup karena pemilik tidak punya rencana suksesi. Pemilik yang menyiapkan regenerasi dan model bisnis baru punya peluang lebih baik.

Tujuh Pelajaran Bertahan

  1. Jangan bertumpu pada satu kaki. Iklan, langganan, acara, riset, lisensi, dan komunitas harus berjalan bersama.
  2. Dekati pembaca secara langsung. Data dan hubungan sendiri lebih tahan guncangan algoritma.
  3. Jaga independensi pendanaan. Hati-hati pada ketergantungan dengan satu sumber.
  4. Jual verifikasi, bukan sekadar kecepatan.
  5. Perjuangkan hak ekonomi atas karya. Lewat negosiasi kolektif, regulasi, dan jalur hukum.
  6. Bermitra dengan kreator, tetapi pegang standar.
  7. Eksperimen dengan disiplin. Ukur, belajar, ulangi, dan akui kegagalan secara terbuka.

Rumah yang Dibangun Pelan-Pelan

Tak satu pun media punya jawaban tunggal. Tempo belajar dari pageview yang turun tapi pelanggan yang naik. NYT membuktikan bahwa pembaca mau membayar untuk paket yang bernilai. Gurun berita di Amerika mengingatkan harga yang harus dibayar jika masyarakat kehilangan jurnalisme lokal. Dan homeless media mengingatkan bahwa jurnalisme tanpa fondasi mudah goyah.

Di tengah AI, post truth, dan platform yang terus berubah, media yang bertahan adalah yang punya tiga hal: kepercayaan pembaca, banyak sumber pendapatan, dan keberanian berubah tanpa melepas nilai-nilai dasarnya. Bagi pembaca, ada pula tugas sederhana: membayar, berlangganan, atau sekadar membagikan karya jurnalistik yang kredibel. Rumah bagi berita yang tepercaya dibangun bersama-sama.