ipan pranashakti narasumber bisnis online pemasaran pendidikan tinggi
iklan dan promosi

Iklan, Harga, atau Kualitas? Studi Terbaru Ungkap Apa yang Sebenarnya Membuat Orang Tergerak Membeli Produk Digital

Ketika Layar Ponsel Menjadi Etalase

Coba ingat kapan terakhir kali Anda membeli sesuatu setelah melihatnya di Instagram. Mungkin awalnya hanya iseng menggulir layar, lalu sebuah iklan muncul dan terasa pas dengan kebutuhan Anda. Beberapa menit kemudian, Anda sudah membuka halaman produknya, membandingkan harga, dan membaca ulasan.

Rangkaian kejadian kecil itu sedang dipelajari serius oleh para peneliti. Salah satunya dimuat dalam Jurnal Ilmiah Ekonomika & Sains (JIESA) Volume 7 Nomor 1, Mei 2026, karya Kevin Boby Andika dan RA. Marlien dari Institut Teknologi dan Bisnis Semarang. Mereka bertanya: di antara iklan Meta Ads, harga, dan kualitas produk, mana yang paling kuat mendorong orang berminat membeli produk digital secara online?

Jawabannya menarik, dan punya pelajaran praktis bagi siapa pun yang berjualan di media sosial, dari pemilik usaha kecil sampai pemasar profesional.

Mengapa Pertanyaan Ini Penting

Indonesia sedang berada di tengah percepatan transformasi digital. Mengutip data yang dipakai para peneliti, penetrasi internet nasional mencapai 79,5 persen dari total penduduk menurut APJII (2024). Jumlah UMKM yang memakai platform digital untuk pemasaran juga naik dari tahun ke tahun. Perilaku konsumen ikut berubah: orang kini mencari informasi, membandingkan produk, dan membeli lewat layar.

Instagram menjadi salah satu panggung utamanya. Berdasarkan laporan yang dikutip dalam jurnal, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan sekitar 108 juta pengguna aktif Instagram. Tetapi ramainya panggung juga berarti ketatnya persaingan. Jangkauan organik, yaitu orang yang melihat unggahan tanpa iklan berbayar, semakin terbatas. Akibatnya, banyak pelaku usaha beralih ke Meta Ads, layanan iklan yang menjangkau pengguna Instagram dan Facebook dengan penargetan berdasarkan demografi, minat, dan perilaku.

Meski begitu, iklan bukan jimat. Penelitian terdahulu yang dikutip para penulis mengingatkan bahwa iklan yang tampil menarik belum tentu mendorong pembelian jika tidak ditopang kesadaran merek yang kuat. Karena itu, studi ini mencoba menimbang tiga faktor sekaligus, bukan iklan saja.

Siapa yang Diteliti?

Objek studinya akun Instagram @cuantanpakamera, yang menawarkan produk digital dan memiliki sekitar 31.800 pengikut. Para peneliti menyebar kuesioner lewat story Instagram, lalu mengumpulkan jawaban dari 125 responden yang memenuhi tiga syarat: pengguna aktif Instagram, pengikut akun tersebut, dan pernah melihat iklannya.

Profil respondennya cukup menggambarkan generasi yang tumbuh bersama gawai:

  • Laki-laki sebanyak 55,2 persen dan perempuan 44,8 persen.
  • Kelompok usia 18-24 tahun mendominasi dengan 60 persen, disusul usia 25-34 tahun sebesar 21,6 persen.
  • Seluruh responden pengguna aktif Instagram dan pernah terpapar iklan akun tersebut.

Dengan kata lain, studi ini membaca perilaku anak muda urban yang akrab dengan media sosial. Ini perlu diingat saat kita menimbang seberapa jauh temuannya bisa berlaku untuk kelompok lain.

Temuan Pertama: Iklan yang Baik Memang Menggerakkan

Hasil analisis regresi menunjukkan iklan Meta Ads berpengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli online. Variabel ini juga yang paling dominan, dengan koefisien standar 0,497. Sebanyak 83 persen responden menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa iklan menjadi pertimbangan dalam membentuk minat beli mereka.

Mengapa iklan begitu berpengaruh? Para penulis merujuk pada Advertising Value Model yang dikemukakan Ducoffe pada 1996. Teori ini menyebut nilai sebuah iklan di mata konsumen terbentuk dari tiga hal: informatif, menghibur, dan kredibel, dikurangi faktor gangguan. Iklan yang membantu orang memahami produk, enak dilihat, dan dapat dipercaya akan menumbuhkan sikap positif. Sebaliknya, iklan yang terlalu sering muncul atau tidak relevan terasa mengganggu.

Sekitar 16 persen responden bersikap netral atau tidak setuju. Menurut para peneliti, kemungkinan penyebabnya rasa terganggu karena iklan terlalu sering tampil, atau isi iklan yang tidak relevan. Dua keluhan ini akrab bagi siapa pun yang pernah dikejar iklan yang sama berkali-kali di beranda.

Pesannya jelas: yang menentukan bukan sekadar membayar agar iklan tampil, melainkan mutu pesan di dalam iklan itu. Iklan yang sekadar lewat tidak sama dengan iklan yang memberi alasan untuk berhenti dan mengamati.

Temuan Kedua: Harga Adalah Soal Rasa Sepadan

Harga ternyata juga berpengaruh positif dan signifikan, dengan koefisien 0,411. Sebanyak 80 persen responden setuju bahwa harga menjadi pertimbangan mereka.

Namun harga di sini tidak hanya berarti angka di label. Para penulis menjelaskan bahwa harga mencerminkan persepsi nilai. Konsumen bertanya dalam hati: apakah yang saya bayar sepadan dengan yang saya dapat? Persepsi ini semakin penting pada produk digital yang tidak bisa diraba. Orang tidak bisa menimbang produknya dengan tangan, jadi mereka mengandalkan petunjuk lain untuk menilai kewajaran harga.

Ada temuan kecil yang layak dicatat. Butir dengan skor terendah dalam variabel harga, rata-rata 3,86, adalah kecocokan harga dengan kualitas yang dinilai dari ulasan pengguna lain. Artinya, calon pembeli ingin melihat bukti sosial sebelum percaya bahwa harga itu wajar. Harga murah saja tidak cukup. Harga yang disertai testimoni nyata jauh lebih meyakinkan.

Sekitar 20 persen responden bersikap netral atau tidak setuju. Para penulis menafsirkannya sebagai tanda bahwa harga belum menjadi prioritas utama bagi sebagian audiens.

Temuan Ketiga: Kualitas Menjadi Fondasi Kepercayaan

Variabel ketiga, kualitas produk, mencatat koefisien 0,491, nyaris menyamai iklan. Dalam konteks produk digital, kualitas tidak dinilai dari bahan atau bentuk fisik, melainkan dari kinerja yang andal, minimnya error, fitur yang berguna, dan desain yang menarik. Hal-hal ini membangun kepercayaan, yang menjadi dasar setiap transaksi daring.

Pada pernyataan tentang minat beli, 89 persen responden menyatakan setuju atau sangat setuju. Mereka cenderung membeli, bersedia merekomendasikan, dan menjadikan produk sebagai pilihan utama.

Tetapi ada celah yang jujur dicatat para peneliti. Skor terendah muncul pada pernyataan bahwa responden tidak akan mudah beralih ke produk pesaing meskipun ada tawaran lain. Ini menunjukkan kesetiaan sebagian pelanggan masih rapuh. Minat boleh tinggi hari ini, tetapi diskon dari kompetitor bisa menggoyahkannya besok.

Para penulis menyarankan agar kualitas ditopang nilai berkelanjutan, misalnya dukungan purna jual dan layanan teknis yang tanggap. Dengan begitu, minat beli yang tinggi bisa berubah menjadi kesetiaan yang tahan godaan.

Membaca Angka dengan Jernih: Iklan Memang Juara, Tapi Selisihnya Tipis

Di sini seorang pembaca yang kritis perlu berhenti sejenak. Studi ini menyebut iklan Meta Ads sebagai faktor paling dominan. Itu benar secara angka, tetapi selisihnya tipis: 0,497 untuk iklan berbanding 0,491 untuk kualitas produk. Jarak sekecil itu sebaiknya tidak dibaca sebagai “iklan jauh mengalahkan kualitas”.

Cara membacanya yang lebih sehat: ketiga faktor sama-sama penting dan saling menopang. Iklan membuat orang datang, harga membuat mereka mempertimbangkan, dan kualitas membuat mereka percaya serta bertahan. Mencabut salah satunya, rantai itu goyah.

Kesimpulan ini sejalan dengan kajian pustaka dalam jurnal itu sendiri. Para penulis mengutip temuan bahwa iklan yang menarik tidak akan memicu pembelian tanpa kepercayaan pada manfaat dan kualitas produk, dan bahwa kualitas yang mengecewakan bisa menurunkan keputusan membeli meski promosi berjalan baik.

Model penelitian ini juga mampu menjelaskan 66,3 persen variasi minat beli. Sisanya, sekitar 33,7 persen, dipengaruhi faktor lain di luar model, seperti kepercayaan konsumen dan kesadaran merek. Jadi tiga faktor tadi sangat berpengaruh, tetapi bukan satu-satunya penentu.

Dari Laporan Ilmiah ke Meja Kerja: Strategi yang Bisa Dipraktikkan

Apa yang bisa dibawa pulang oleh pelaku usaha? Berdasarkan temuan dan saran para peneliti, ada beberapa langkah konkret.

1. Ceritakan, jangan sekadar menjual.
Para penulis menyarankan pendekatan storytelling yang lebih kreatif agar pesan tidak hanya tersampaikan, tetapi juga dinikmati. Iklan yang menghibur dan informatif lebih mudah mendapat tempat di benak audiens.

2. Pasang bukti di samping harga.
Karena kecocokan harga dan kualitas paling lemah di mata responden, tampilkan testimoni yang spesifik: siapa yang memakai, apa hasilnya, dan seberapa nyata manfaatnya. Ulasan yang konkret mengurangi keraguan lebih efektif daripada klaim umum.

3. Jaga mutu seperti menjaga reputasi.
Lakukan kendali kualitas agar produk bebas dari cacat dan error, lalu sediakan dukungan teknis yang responsif. Pelanggan yang dibantu dengan baik cenderung bertahan dan merekomendasikan.

4. Hindari iklan yang menjemukan.
Karena rasa terganggu bisa menurunkan efektivitas, atur frekuensi tayang dan pastikan isi iklan relevan bagi kelompok yang disasar. Menampilkan iklan yang sama berulang-ulang hanya membuat audiens jengah.

5. Kenali siapa audiens Anda.
Pada studi ini, kelompok usia 18-24 tahun mendominasi. Anak muda cenderung menghargai tampilan profesional dan manfaat nyata. Sesuaikan bahasa, visual, dan penawaran dengan segmen yang benar-benar menjadi pembeli Anda.

6. Perlakukan ketiganya sebagai satu paket.
Jangan menggelontorkan seluruh anggaran untuk iklan sambil mengabaikan kualitas produk atau kejelasan harga. Iklan yang kuat pada produk yang mengecewakan hanya mempercepat datangnya ulasan buruk.

Catatan Kehati-hatian

Seperti riset mana pun, studi ini punya batasan yang diakui para penulisnya.

Pertama, penelitian hanya menyorot satu akun Instagram. Hasilnya belum tentu berlaku sama untuk industri atau jenis produk lain. Kedua, responden dipilih dengan purposive sampling dan batas toleransi kesalahan 10 persen, sehingga generalisasi harus dilakukan dengan hati-hati. Sampelnya pun hanya 125 orang dari sekitar 31.800 pengikut. Ketiga, masih ada faktor lain yang belum diukur.

Para peneliti menyarankan studi berikutnya menambahkan variabel seperti electronic word of mouth (ulasan dan rekomendasi dari mulut ke mulut secara daring) dan kepercayaan merek, serta memakai teknik sampel probabilitas agar gambarannya lebih luas.

Bagi pembaca awam, artinya sederhana: anggap temuan ini sebagai petunjuk arah yang kuat, bukan hukum yang berlaku di semua tempat. Uji juga pada bisnis Anda sendiri lewat data iklan, penjualan, dan tanggapan pelanggan.

Tiga Kaki untuk Satu Meja

Jika minat beli konsumen kita bayangkan sebagai sebuah meja, iklan, harga, dan kualitas produk adalah tiga kakinya. Iklan memang kaki yang paling mencolok dan sedikit lebih kokoh dalam studi ini. Tetapi meja yang hanya bertumpu pada satu kaki kuat akan tetap oleng.

Pelaku usaha yang bijak tidak bertanya “mana yang paling penting?” lalu mengabaikan sisanya. Mereka bertanya, “Apakah ketiganya sudah saya rawat dengan baik?” Iklan yang menarik perhatian, harga yang terasa adil dan dibuktikan ulasan, serta kualitas yang konsisten membuat pelanggan datang, mempercayai, lalu kembali.

Di tengah persaingan media sosial yang kian padat, pemenangnya bukan yang paling nyaring berteriak, melainkan yang paling bisa dipercaya.


Sumber: Andika, K. B., & Marlien, R. A. (2026). Pengaruh Iklan Meta Ads, Harga, dan Kualitas Produk Terhadap Minat Beli Online Produk Digital (Studi Kasus Instagram @Cuantanpakamera). Jurnal Ilmiah Ekonomika & Sains (JIESA), 7(1), 49-63. https://doi.org/10.54066/jiesa.v7i1.834