Memiliki pengalaman dalam puluhan komunitas, menjadikan semangat untuk menulis dari kebiasaan mengamati bubarnya komunitas, terutama di Indonesia yang rentan perpecahan karena banyak perbedaaan. Komunitas seringkali dimulai dari sebuah mimpi sederhana yaitu sekumpulan orang dengan minat atau visi yang sama berkumpul untuk menciptakan ruang aman, berbagi hobi, atau memperjuangkan misi tertentu utamanya membangun persaudaraan. Namun, sejarah mencatat bahwa musuh terbesar komunitas bukanlah tekanan dari luar, melainkan keroposnya fondasi dari dalam. Saat pengurus mulai memandang jabatan sebagai takhta kekuasaan dan mengabaikan aspirasi anggotanya, komunitas tersebut sebenarnya sedang menghitung hari menuju kehancuran.

Sebelum membedah kehancuran bubarnya komunitas, kita perlu memahami apa yang menyatukan sebuah komunitas. Berorganisasi bukan sekadar menyusun struktur “Ketua, Sekretaris, Bendahara.” Ada kontrak sosial tak tertulis yang menjadi nyawa komunitas:

Pertama, Kesamaan Tujuan (Common Goal). Komunitas adalah wadah untuk mencapai sesuatu yang tidak bisa dicapai sendirian.

Kedua, Kesetaraan (Equality). Meski ada hierarki struktural untuk efisiensi koordinasi, secara esensial setiap anggota memiliki martabat yang sama.

Ketiga, Kepercayaan (Trust). Anggota menyerahkan mandat kepada pengurus dengan kepercayaan bahwa pengurus akan bertindak demi kepentingan bersama, bukan kepentingan pribadi.

Keempat, Komunikasi Dua Arah. Organisasi yang sehat adalah organisme yang bernapas. Aspirasi dari anggota adalah oksigen, dan respons dari pengurus adalah aliran darahnya.

Masalah dimulai ketika pengurus mulai merasa bahwa mereka adalah “pemilik” komunitas, bukan “pelayan” komunitas. Masalah dimulai ketika para pengurus mulai merasa bahwa mereka adalah “pemilik” komunitas, bukan “pelayan” komunitas. Penyakit ego ini biasanya bermanifestasi melalui keputusan sepihak, kurangnya transparansi, dan keengganan menerima kritik. Ketika jabatan dianggap hak istimewa, bukan amanah, pengurus lebih fokus mempertahankan posisi daripada melayani anggota. Akibatnya, suasana kerja sama berubah menjadi kompetisi dan kecurigaan. Komunitas yang seharusnya menjadi ruang tumbuh bersama justru terjebak konflik internal.

Untuk mencegahnya, diperlukan budaya rendah hati, akuntabilitas, dan pengingat bahwa kepemimpinan sejati lahir dari pelayanan, bukan penguasaan.

Penyakit ego ini biasanya bermanifestasi dalam beberapa gejala:
Sentralisasi Keputusan: Pengurus mengambil langkah besar tanpa konsultasi atau transparansi.

Kritik Dianggap Serangan: Alih-alih melihat masukan sebagai bahan evaluasi, pengurus yang egois melihatnya sebagai upaya makar atau pembangkangan.

Eksklusivitas Informasi: Hanya segelintir “ring satu” yang tahu apa yang sebenarnya terjadi, sementara anggota dibiarkan dalam kegelapan.

Ketika pengurus merasa lebih pintar atau lebih berjasa daripada anggotanya, mereka menciptakan tembok tebal yang menyumbat aspirasi. Padahal, sebuah komunitas hanya akan relevan jika ia mampu menangkap kebutuhan anggotanya yang terus berubah.

Komunitas adalah sekumpulan orang, berkumpulnya banyak pemikiran dan perbedaan. Sehingga perlu kecerdasan berkenaan dengan apa yang terjadi jika suara anggota terus-menerus diabaikan? Terjadi sebuah proses pelapukan yang sistematis:

Pertama, Apatisme dan Penurunan Partisipasi. Langkah awal menuju bubarnya komunitas bukanlah pertengkaran hebat, melainkan heningnya suasana. Anggota yang merasa suaranya tidak didengar akan mulai berpikir, “Untuk apa saya memberi saran jika tidak pernah dianggap?” Mereka tetap ada di grup WhatsApp atau daftar anggota, tetapi secara emosional mereka sudah keluar.

Kedua, Munculnya Faksi dan “Grup di dalam Grup”. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh didengar. Jika wadah utama (komunitas) gagal menyediakan telinga, anggota akan mencari telinga lain. Munculah faksi-faksi kecil yang biasanya disatukan oleh rasa kecewa yang sama terhadap pengurus. Ini adalah awal dari perpecahan (skisma).

Ketiga, Eksodus Anggota Potensial. Ironisnya, mereka yang paling vokal memberikan aspirasi biasanya adalah orang-orang yang paling peduli. Ketika mereka pergi karena lelah berbenturan dengan ego pengurus, komunitas kehilangan aset terbaiknya. Yang tersisa hanyalah pengurus dan pengikut yang “asal bapak senang,” yang tidak memiliki daya kritis untuk memajukan organisasi.

Risiko Terburuk: Bubar Secara De Facto maupun De Jure

Komunitas bisa “mati” dalam dua cara. Pertama, secara formal, di mana organisasi resmi dibubarkan atau pengurus mengundurkan diri massal. Kedua, dan yang paling sering terjadi, adalah mati secara fungsional. Organisasinya masih ada, namanya masih tercatat, tetapi tidak ada kegiatan, tidak ada semangat, dan tidak ada manfaat yang dirasakan. Ia menjadi “organisasi zombie.”

Bubarnya komunitas karena ego pengurus meninggalkan luka sosial yang dalam. Kepercayaan antar individu rusak, dan seringkali anggota menjadi trauma untuk bergabung dengan komunitas lain di masa depan.

Solusinya, menata ulang kembali ke semangat “Pelayan, Bukan Raja”, untuk mencegah kehancuran, perlu ada reorientasi total dalam cara pandang pengurus:

  • Pertama, Kepemimpinan Melayani. Pengurus harus sadar bahwa posisi mereka adalah beban tanggung jawab, bukan fasilitas untuk pamer kekuasaan.
  • Kedua, Saluran Feedback yang Jelas yakni adanya saluran resmi dan aman bagi anggota untuk menyampaikan keluh kesah tanpa takut diintimidasi atau dikucilkan.
  • Ketiga, Transparansi, yakni masalah keuangan dan kebijakan strategis harus dibuka sejelas-jelasnya. Kecurigaan biasanya lahir dari ketidaktahuan.
  • Keempat, Regenerasi yang sehat yakni ego seringkali muncul dari pengurus yang terlalu lama menjabat dan merasa tak tergantikan. Batasan masa jabatan adalah cara terbaik menjaga sirkulasi ide tetap segar.

Nah dari sinilah, kita perlu mempertegas pemahaman bahwa sebuah komunitas berdiri di atas bahu anggotanya, bukan di atas kepala pengurusnya. Ego adalah racun yang paling cepat membunuh solidaritas. Jika pengurus lebih mencintai jabatan mereka daripada tujuan komunitas itu sendiri, maka bubarnya komunitas hanyalah masalah waktu.

Organisasi yang hebat bukanlah yang tidak pernah punya konflik, melainkan yang mampu mengelola konflik tersebut dengan cara mendengarkan, merangkul, dan menampung aspirasi terkecil sekalipun dari anggotanya. Karena pada akhirnya, komunitas adalah tentang “kita,” bukan tentang “saya” atau “mereka.”