1
1
Kecerdasan buatan (AI) generatif kini bisa menulis esai, menjawab soal ujian, dan merangkum buku dalam hitungan detik. Banyak orang melihatnya sebagai lompatan besar bagi dunia belajar. Namun semakin banyak pemerintah dan peneliti mulai bertanya: apa yang hilang ketika siswa tidak lagi harus bergulat memahami sesuatu sendiri?
Pada 19 Juni 2026, Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Støre mengumumkan pembatasan hampir total penggunaan AI generatif oleh siswa sekolah dasar. Kebijakan itu berlaku sejak tahun ajaran baru pada akhir Agustus 2026. Artikel ini merangkum isi kebijakan tersebut, bukti dan argumen di baliknya, dampak negatif AI bagi pendidikan, serta pelajaran untuk Indonesia.
Aturan Norwegia dibuat bertingkat menurut usia dan jenjang:
Pemerintah juga akan mengajukan aturan untuk mendanai lebih banyak buku cetak di kelas. Langkah ini membalik sebagian arah kebijakan sebelumnya, yaitu ketergantungan pada komputer dan tablet. Norwegia memakai komputer di sekolah sejak 1990-an dan tablet secara lebih luas sejak 2010-an.
Menurut pemberitaan, larangan ini berfokus pada penggunaan oleh siswa selama jam sekolah, bukan pada guru. Cakupan persis istilah “AI generatif” dalam aturan juga belum dirinci dalam liputan yang tersedia.
Alasan utama yang disampaikan Støre adalah bahwa hal terpenting di sekolah ialah anak belajar membaca, menulis, dan berhitung (calistung). Ia menilai penggunaan AI tanpa sikap kritis membuat siswa melewatkan langkah belajar yang penting.
Kebijakan ini juga berakar pada kekhawatiran atas turunnya hasil tes pendidikan di Norwegia. Pada 2024, pemerintah sudah melarang ponsel pintar di sekolah dan memberi guru wewenang lebih besar menjaga disiplin kelas. Sejumlah laporan menyebut larangan ponsel itu diikuti perbaikan nilai dan kesehatan mental siswa, terutama anak perempuan. Pemerintah juga berencana melarang media sosial bagi anak di bawah 16 tahun, mengikuti langkah Australia.
Dengan kata lain, AI di kelas dilihat sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar: bagaimana melindungi masa belajar dan masa kanak-kanak dari gempuran teknologi digital.
Pemberitaan tentang kebijakan Norwegia merujuk pada sebuah kajian dari Center for Universal Education di Brookings Institution. Kajian itu memadukan diskusi kelompok, wawancara, dan pendapat pakar untuk menilai dampak AI generatif pada anak, dan menyimpulkan bahwa risikonya lebih besar daripada manfaatnya. Temuan intinya: ketika anak beralih ke AI alih-alih melatih kemampuan berpikirnya sendiri, perkembangan kognitif dan kemampuan memecahkan masalah mereka bisa terhambat.
Pemberitaan yang sama juga menyebut berbagai studi tentang dampak penggunaan AI terhadap fungsi kognitif orang dewasa, bahkan untuk pemakaian jangka pendek. Jika pada orang dewasa saja dampaknya dikhawatirkan, kekhawatiran pada anak yang otaknya masih berkembang tentu lebih besar. Perlu dicatat bahwa bukti ini masih berkembang dan sebagian berasal dari kajian kualitatif, sehingga belum bisa dianggap kesimpulan final.
Berdasarkan argumen kebijakan Norwegia dan kekhawatiran para pendidik, berikut dampak negatif yang paling sering dibahas.
Membaca, menulis, dan berhitung dibangun lewat latihan, kesalahan, dan koreksi. Anak yang menulis kalimat berantakan lalu memperbaikinya sedang membangun cara berpikir. Jika AI langsung memberi jawaban atau tulisan rapi, proses itu terlewati. Tugas tampak selesai, tetapi kemampuan di baliknya belum terbentuk.
Anak yang terbiasa meminta bantuan AI sebelum mencoba sendiri akan membentuk kebiasaan “tanya mesin dulu”. Kebiasaan ini sulit diubah, dan anak bisa merasa tidak mampu bekerja tanpa alat.
Berpikir kritis membutuhkan latihan mempertanyakan, membandingkan, dan menyusun argumen. Bila jawaban selalu tersedia instan, latihan itu jarang terjadi. Kreativitas pun tergerus jika gagasan awal selalu datang dari mesin, bukan dari imajinasi anak.
AI memudahkan siswa menyerahkan tugas yang bukan hasil kerjanya sendiri. Guru kesulitan mengetahui kemampuan sebenarnya, sementara siswa yang jujur bisa merasa dirugikan. Nilai pun kehilangan makna sebagai ukuran pemahaman.
AI generatif dapat menyajikan jawaban yang fasih tetapi salah. Anak yang belum punya dasar pengetahuan kuat sulit membedakan mana yang benar. Karena itu, kemampuan dasar justru diperlukan agar siswa bisa menilai keluaran AI.
Belajar bukan hanya soal materi. Diskusi dengan guru dan teman melatih komunikasi, empati, dan kerja sama. Jika proses belajar bergeser menjadi percakapan dengan mesin, ruang interaksi sosial yang penting bagi perkembangan anak dapat menyempit.
Tidak semua keluarga dan sekolah memiliki perangkat, internet, dan literasi digital yang setara. Penggunaan AI tanpa panduan dapat memperlebar jurang antara siswa yang dibimbing dengan baik dan yang dibiarkan sendiri.
Norwegia bukan satu-satunya contoh. Pemberitaan menunjukkan negara-negara lain mengambil arah berlawanan.
Polandia berencana melengkapi 12.000 sekolah dasar dan menengah dengan “laboratorium AI” pada awal tahun ajaran berikutnya. Perdana Menteri Donald Tusk menekankan bahwa generasi muda harus belajar mengendalikan AI, bukan dikendalikan olehnya. Sementara itu, Uni Emirat Arab mewajibkan pembelajaran AI dalam kurikulum sejak taman kanak-kanak. Menteri Pendidikannya menyatakan bahwa AI sudah menjadi kenyataan dan pembelajarannya dirancang agar menyenangkan bagi siswa.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa perdebatannya bukan “AI atau tanpa AI”, melainkan kapan, bagaimana, dan dengan pengawasan seperti apa AI diperkenalkan. Menarik pula bahwa Norwegia tidak menolak AI sepenuhnya: siswa yang lebih tua tetap dilatih memakainya, hanya dengan tahapan yang berbeda.
Agar pembahasan seimbang, ada beberapa catatan yang dikemukakan pengamat:
Perlu pula dibedakan antara larangan penggunaan AI di kelas dan kerangka hukum AI secara umum. Norwegia sedang menyiapkan undang-undang AI yang selaras dengan regulasi Uni Eropa, memakai pendekatan berbasis tingkat risiko dan menekankan transparansi. Itu adalah jalur regulasi yang terpisah dari aturan sekolah dasar.
Indonesia tidak perlu menyalin Norwegia mentah-mentah, tetapi beberapa prinsipnya patut dipertimbangkan.
Langkah Norwegia membatasi AI generatif bagi anak usia 6–13 tahun mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar menghasilkan jawaban, melainkan membentuk kemampuan berpikir. AI membawa manfaat nyata, tetapi pada usia dini ia berisiko membuat anak melewatkan tahapan belajar dasar, bergantung pada teknologi, dan melemahkan daya pikir kritis.
Pendekatan yang bijak bukan menolak teknologi sepenuhnya, melainkan memperkenalkannya tepat waktu dan tepat takaran: ketat pada usia dini, makin terbuka dengan bimbingan pada usia yang lebih besar. Dengan begitu, AI menjadi alat yang memperkaya pendidikan, bukan pengganti proses belajar itu sendiri.