Strategi Bisnis : Memonitor dan Evaluasi SDM dengan Konsep Standarisasi

Strategi bisnis di era mellenium ini perkembangannya mulai memunculkan kolaborasi antara :

External Driven

Standar  yang dipengaruhi oleh peraturan daerah, pusat,  dan regulasi lain. Kita ambil contoh Pajak. Banyak ketentuan dalam proses pemenuhan pajak, sehingga sebagai perusahaan baik besar maupun kecil, skala prioritas pajak merupakan hal yang penting dan terus harus di tertibkan menuju efisiensi proses. Efisiensi proses? Yah karena banyak pimpinan perusahaan menyerahkan 100% persoalan pajak kepada staf keuangan. Hal ini boleh berlaku namun, tentu kita harus mengukur seajuh mana kedisipilinan dalam pajak dengan 3 arah.

  1. Apakah dalam pelaporan pajak selalu menggunakan sekali hitung, atau sering terjadi kesalahan-kesalahan karena staf tidak mengupdate regulasi pajak baru
  2. Apakah dalam menyusun pelaporan menggunakan aspek ideal atau termudah (yang penting terlaporkan)
  3. Apakah staf berusaha mengkomunikasikan kepada pelanggan dengan baik, terutama ketika kerjasama tersebut menyangkut tertib pajak, baik dalam produk maupun layanan. Sehingga pelanggan tetap merasa nyaman dan enjoy melakukan transaksi walau diliputi ketertiban pajak di berbagai hal, PPn, PPh, IMB  dll.

Internal Driven
Standar yang muncul dari manajemen internal, dan bisa pipengaruhi oleh:

  1. Manajemen  internal.  Standar yang muncul atas dasar kepentingan manajemen internal perusahaan, bisa dalam sudut pandang karakteristik manajemen maupun manajemen umum
  2. Manajemen Adopsi. Standar yang muncul dari adopsi standar pihak diluar perusahaan namun sudah diadopsi ke manajemen internal, namun metode penentuan dan pengukuran standar kolaborasi dengan metode luar.
  3. Manajemen integrasi.  Standar system sentralisasi.  Standar yang muncul dari pihak internal namun karena menganut system sentralisasi maupun semi sentralisasi sehingga integrasi lebih diutamakan, misal perusahaan pusat dan cabang, atau perusahaan waralaba.

Strategi bisnis bisa bersifat universal maupun karakterisitik, namun standar harus menganut orientasi pencapaian kepuasan pelanggan yang terukur. Apa saja standar yang harus terukur.

Standar  Output atau Hasil

Strategi bisnis lingkup manajemen misal dengan adopsi manajemen kualitas ISO 9000, bahwa standar hasil mempunyai ukuran –ukuran yang harus bisa terukur, semata untuk melihat apakah ada efektifitas ke dalam namun tetap  customer oriented. Sehingga tujuan tujuan manajemen akan terpantau dan semua structural dan pihak-pihak yang terlibat (stake holder) mengarahkan kekuatan dan pencapain ke standar ouput tersebut. Misal dari semua produksi menghasilkan barang dengan akurasi 100% minimal 95%, artinya ketika perusahaan baru mencapai rata-rata 80%, harus terpacu menuju minimal 95%. Contoh lain :  KEtika anda mempunyai layanan delivery dalam pengantaran barang, misal maksimal 30 menit untuk jarak tertentu, tentu demi kepuasan pelanggan ada standar yang harus tercapai, misal standar yang diinformasikan ke pelanggan adalah sebelum 30 menit pasti sampai, namun secara internal ada standar 20 menit sampai, dengan ukuran bahwa  ketepatan waktu 20 meni t sampai minimal 90%. Hal ini semata bahwa 30 menit adalah nilai bersih ke pelanggan, namun standar yang diterapkan untuk SDM 20 menit, mengingat 10 menit merupakan angka yang riskan, setidakny menambal ban kendaraan pengantar yang bocor , lebih dari 10 menit. Sehingga angka 30 menit dan 20 menit merupakan capaian, prestasi SDM di bagian tertentu. Silahkan tentukan ukuran lain dalam usaha anda, tentu ukuran yang dinamis, jangan kaku dan menghambat prestasi SDM.

Standar Proses
Standar proses merupakan standar yang muncul untuk mencapai ketercapaian standar output atau hasil. Misal dalam rangka mengejar ketercapaian 20 menit layanan antar, maka dibuat jadwal secara procedural  bahwa service kendaraan maksimal  90% dari rentang waktu/pemakaian antar masa pemakaian service adalah 90%. Misal, kendaraan roda 2, jika harus service setiap 2000km, maka dibuat standar pemeliharaan sebelum 2000km,  yaitu 1800km adalah 90% sehingga boleh saja service pada km 1900km, namun itu tidak disarankan, karena ketika jika sehari sudah mengantar 10 kali dengan jarak masing-masing 15km, maka sudah 150km.

Mungkin dengan contoh lain, demi pencapaian  20 menit tersebut, dibuat standar pencapaian sebleum proses tersebut, yaitu misal penyaiapan bahan baku di gudang adalah kesediaan  bahan baku minimal 30% tersedia dari nilai kebutuhan harian mingguan.

Strategi bisnis dengan penerapan standar  dalam kepentingan monitor dan evaluasi ini, lebih kepada penilaian yang obyektif dan kuantitatif menuju pencapaian standar kualitatif.  Standar kuatitatif misal 90%, standar kualitatif adalah baik, baik sekali. Misal dalam IPK, nilai kuantitafnya IP 3.4 kualitatifnya  Sangat Memuaskan.
Bagamaina pengukuran evaluasi standar menuju Goal perusahaan secara strategic?? Silahkan kunjungi web ini secara berkala.

Sukses selalu
Ipan Pranashakti KIP

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *