ipan pranashakti narasumber bisnis online pemasaran pendidikan tinggi

Strategi Pemasaran di Era Digital: Jangan Remehkan Kekuatan Media Massa dan Pers

Di era digital seperti sekarang, strategi pemasaran mengalami perubahan yang sangat signifikan. Jika dahulu perusahaan hanya bergantung pada iklan cetak, baliho, radio, atau televisi, kini pilihan media promosi menjadi jauh lebih beragam. Website, media sosial, influencer, email marketing, hingga berbagai platform digital menjadi bagian dari aktivitas pemasaran sehari-hari.

Namun di tengah perkembangan teknologi tersebut, masih banyak perusahaan yang kurang memahami satu hal penting: peran media massa dan pers dalam membangun reputasi serta mendukung strategi pemasaran jangka panjang.

Menariknya, beberapa tahun lalu banyak perusahaan justru bersikap skeptis terhadap pers dan media massa. Tidak sedikit organisasi yang menganggap wartawan sebagai pihak yang mengganggu, mencari kesalahan, atau berpotensi merugikan citra perusahaan. Dalam beberapa kasus bahkan pernah terjadi penolakan atau pengusiran terhadap jurnalis yang datang untuk melakukan peliputan.

Ironisnya, perusahaan-perusahaan yang bersikap antipati terhadap media tersebut pada saat yang sama tetap menggunakan media massa sebagai sarana promosi. Mereka memasang iklan di koran, majalah, radio, televisi, maupun portal berita online untuk mendukung kegiatan pemasarannya.

Lalu muncul pertanyaan yang menarik.

Apakah iklan semata sudah cukup untuk mendukung strategi pemasaran sebuah perusahaan?

Jawabannya belum tentu.

Iklan memang memiliki kekuatan untuk menyampaikan pesan yang dirancang secara spesifik oleh perusahaan. Namun keberhasilan pemasaran tidak hanya ditentukan oleh iklan. Di balik itu terdapat faktor yang sering kali lebih kuat, yaitu persepsi publik, kepercayaan masyarakat, dan reputasi yang terbentuk melalui pemberitaan media.

Karena itulah, di banyak negara maju, membangun hubungan yang baik dengan media massa menjadi bagian penting dari strategi komunikasi perusahaan. Pendekatan ini sering kali lebih efektif, lebih persuasif, dan dalam banyak kasus lebih ekonomis dibandingkan harus terus-menerus menggelontorkan biaya iklan dalam jumlah besar.

Dalam praktiknya, hubungan antara perusahaan dan media massa setidaknya dapat dilihat melalui dua sudut pandang utama: kontradiktif dan proaktif-persuasif.

Ketika Pers Menjadi Faktor Kontradiktif

Media massa pada dasarnya memiliki fungsi kontrol sosial. Karena itu, tidak semua pemberitaan akan selalu sejalan dengan kepentingan perusahaan atau lembaga tertentu.

Bahkan sejumlah media justru membangun diferensiasi melalui berita-berita yang kritis, investigatif, atau kontroversial. Dari sudut pandang bisnis media, pendekatan tersebut sering digunakan untuk menarik perhatian pembaca dan meningkatkan daya saing media itu sendiri.

Dalam kondisi seperti ini, perusahaan perlu memahami beberapa hal.

1. Kedekatan Emosional dan Kedekatan Fisik Media

Salah satu faktor yang memengaruhi kekuatan sebuah pemberitaan adalah tingkat kedekatan media dengan objek yang diberitakan.

Sebagai contoh, sebuah perguruan tinggi memiliki majalah mahasiswa atau buletin internal yang dibaca oleh civitas akademika. Jika media internal tersebut secara rutin memuat kritik tajam terhadap kebijakan kampus, tentu dampaknya akan jauh lebih besar dibandingkan kritik yang datang dari pihak eksternal yang tidak memiliki kedekatan langsung.

Mengapa demikian?

Karena pembaca menganggap sumber informasi tersebut berasal dari lingkungan yang memahami kondisi sebenarnya. Akibatnya, tingkat kepercayaan terhadap informasi yang disampaikan menjadi lebih tinggi.

Bayangkan jika sebuah kampus memasang iklan besar-besaran tentang keunggulan teknologi informasinya pada halaman depan media tertentu. Namun pada halaman lain terdapat artikel yang menyoroti ketertinggalan fasilitas teknologi, kurangnya kompetensi SDM, atau minimnya anggaran pengembangan digital.

Situasi seperti itu dapat menciptakan dua persepsi yang saling bertolak belakang di mata masyarakat.

Pentingnya Pendekatan yang Humanis

Karena itu, perusahaan atau institusi tidak cukup hanya aktif beriklan. Mereka juga harus aktif membangun komunikasi dengan berbagai unsur media.

Perlu dipahami bahwa membangun hubungan dengan media bukan berarti mengendalikan isi pemberitaan. Yang dimaksud adalah membangun saluran komunikasi yang sehat sehingga informasi yang diterima media lebih lengkap, berimbang, dan dapat diverifikasi.

Hubungan yang baik akan membantu organisasi menjelaskan berbagai kebijakan, program, maupun pencapaiannya secara lebih proporsional.

2. Fungsi Redaksi dalam Menyaring Informasi

Aspek lain yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sebuah media menjalankan fungsi redaksionalnya.

Dalam dunia jurnalistik yang profesional, setiap informasi idealnya diverifikasi sebelum dipublikasikan. Namun dalam praktiknya, kualitas pengelolaan redaksi bisa berbeda-beda pada setiap media.

Kadang-kadang terdapat situasi ketika seseorang memiliki kedekatan emosional yang kuat terhadap sebuah perusahaan atau lembaga. Misalnya mantan pegawai yang pernah memiliki pengalaman buruk kemudian bekerja di media tertentu.

Jika tidak dikelola secara profesional, pengalaman pribadi dapat memengaruhi sudut pandang dalam pemberitaan.

Karena itu, perusahaan harus memahami bahwa reputasi bukan hanya dibangun melalui iklan, melainkan juga melalui pengalaman nyata yang dirasakan berbagai pihak yang pernah berinteraksi dengan perusahaan tersebut.

Semakin baik kualitas layanan dan hubungan yang dibangun dengan berbagai pemangku kepentingan, semakin kecil kemungkinan munculnya sentimen negatif yang berpotensi berkembang menjadi isu reputasi.

Ketika Pers Menjadi Kekuatan Proaktif dan Persuasif

Di sisi lain, media massa juga dapat menjadi salah satu mitra terbaik dalam mendukung strategi pemasaran.

Saat media eksternal maupun internal menyoroti berbagai prestasi, inovasi, layanan, atau keberhasilan sebuah organisasi secara objektif, dampaknya sering kali jauh lebih kuat dibandingkan iklan biasa.

Mengapa?

Karena masyarakat cenderung mempercayai informasi yang tampil dalam bentuk berita dibandingkan pesan iklan yang secara eksplisit dibuat untuk tujuan promosi.

Inilah yang membuat banyak perusahaan besar memiliki divisi Public Relations (PR), Corporate Communication, atau Media Relations yang bertugas membangun hubungan baik dengan media.

Hubungan yang baik dengan media memungkinkan perusahaan memperoleh berbagai manfaat, antara lain:

  • Meningkatkan kredibilitas organisasi.
  • Memperkuat citra dan reputasi perusahaan.
  • Meningkatkan kepercayaan publik.
  • Membantu pengelolaan isu dan krisis.
  • Mendukung kampanye pemasaran secara lebih persuasif.
  • Menjangkau audiens yang lebih luas.

Yang menarik, hasil yang diperoleh sering kali jauh lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan.

Mengapa Pemberitaan Sering Lebih Efektif daripada Iklan?

Perbedaan utama antara iklan dan pemberitaan terletak pada persepsi audiens.

Dalam iklan, audiens sadar bahwa perusahaan sedang berusaha menjual sesuatu. Karena itu, sebagian orang cenderung bersikap lebih kritis terhadap isi pesan yang disampaikan.

Sebaliknya, pemberitaan biasanya dianggap lebih netral karena berasal dari pihak ketiga, yaitu media.

Tentu saja perusahaan tidak dapat mengendalikan isi berita sepenuhnya seperti dalam iklan. Namun perusahaan masih dapat memberikan informasi dasar melalui:

  • Press release
  • Konferensi pers
  • Media briefing
  • Wawancara
  • Kunjungan media
  • Penyediaan data dan fakta pendukung

Semakin baik kualitas informasi yang diberikan kepada media, semakin besar peluang munculnya pemberitaan yang akurat dan bermanfaat bagi publik.

Belajar dari Dunia Hiburan

Jika kita memperhatikan dunia hiburan, banyak artis, musisi, maupun figur publik yang mampu mencapai popularitas tinggi tanpa harus memasang baliho di setiap sudut kota.

Mereka dikenal luas karena aktivitasnya secara konsisten diberitakan oleh media massa.

Popularitas tersebut kemudian berkembang menjadi reputasi, reputasi berubah menjadi kepercayaan, dan kepercayaan pada akhirnya menciptakan nilai ekonomi.

Prinsip yang sama sesungguhnya berlaku dalam dunia bisnis.

Sebuah perusahaan yang sering muncul dalam pemberitaan positif mengenai inovasi, kualitas layanan, kontribusi sosial, atau keberhasilannya menghadapi tantangan bisnis akan memperoleh perhatian publik yang jauh lebih besar dibandingkan perusahaan yang hanya mengandalkan iklan semata.

Strategi Media Relation yang Lebih Cerdas

Banyak perusahaan salah memahami hubungan dengan media. Sebagian menganggap bahwa membangun relasi dengan pers berarti harus mengeluarkan banyak uang.

Padahal yang lebih bernilai justru bukan uang, melainkan kualitas hubungan yang dibangun.

Media relation yang baik lahir dari:

  • Keterbukaan informasi.
  • Kejujuran dalam komunikasi.
  • Kemudahan akses informasi.
  • Respons yang cepat terhadap pertanyaan media.
  • Penghargaan terhadap profesi jurnalistik.
  • Konsistensi dalam memberikan data yang akurat.

Hubungan yang dibangun secara manusiawi dan profesional biasanya jauh lebih efektif dibandingkan pendekatan yang terlalu transaksional.

Pers sebagai Bagian dari Strategi Marketing Modern

Pada akhirnya, media massa bukan sekadar saluran informasi. Dalam konteks pemasaran modern, pers merupakan salah satu instrumen penting untuk membangun reputasi, kepercayaan, dan positioning sebuah organisasi di mata publik.

Karena itu, jangan menganggap media hanya sebagai tempat memasang iklan, dan jangan pula menganggap wartawan sebagai pihak yang harus dihindari.

Perusahaan yang mampu mengelola hubungan dengan media secara profesional akan memperoleh keuntungan besar dalam jangka panjang. Bukan hanya dalam hal promosi, tetapi juga dalam membangun citra, mempertahankan kepercayaan publik, dan memperkuat daya saing di tengah pasar yang semakin kompetitif.

Di era digital yang penuh dengan informasi dan persaingan perhatian, reputasi sering kali menjadi aset yang jauh lebih berharga daripada anggaran iklan yang besar.

Sebab pada akhirnya, masyarakat tidak hanya membeli produk atau jasa. Mereka juga membeli kepercayaan. Dan salah satu jalan terbaik untuk membangun kepercayaan tersebut adalah melalui hubungan yang sehat, profesional, dan berkelanjutan dengan media massa.

Sukses selalu.

Ipan Pranashakti KIP

One thought on “Strategi Pemasaran di Era Digital: Jangan Remehkan Kekuatan Media Massa dan Pers”

  1. Terima kasih infonya…

    BISA LANGSUNG DI PRAKTEKIN..

Tinggalkan Balasan